TEUKU UMAR (1854 – 1899)

PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN

          Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 087/TK/Tahun 1973, Tanggal 6 Nopember 1973.

 
 
          Perang Aceh merupakan perang yang sangat besar bagi Belanda dalam sejarah peperangannya di Hindia Belanda. Perang Aceh yang terus berkepanjangan sampai 40 tahun itu, menampilkan tokoh-tokoh pejuang yang terukir secara gemilang dalam Sejarah Nasional kita.
          Seorang dari para pejuang itu bernama Teuku Umar. Ia dilahirkan pada tahun 1854 di Meulaboh. Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau yang merantau ke Aceh pada akhir abad ke-17. Ayahnya bernama Teuku Mahmud dan ibunya adalah adik raja Meulaboh. Nanta Setia adalah paman Teuku Umar yang menjadi Ule balang VI Mukim. Ia kemudian kawin dengan Cut Nyak Din, anak dari Nanta Setia pamannya. Beliau sebagai suami ke dua dari Cut Nyak Din yang suaminya meninggal dalam berperang melawan penjajah Belanda.
          Di waktu mudanya Teuku Umar suka berkelahi dan berkelana. Pada waktu ia berusia 19 tahun pada tahun 1873, meletuslah perang di Aceh. Teuku Umar pun ikut melibatkan diri dalam pertempuran. Mula-mula ia berjuang menyelamatkan kampungnya sendiri, kemudian meluas sampai ke daerah Meulaboh.
          Kampung Darat yang menjadi markas besar Teuku Umar dapat diduduki Belanda pada tahun 1878. Tetapi pada tahun 1883 Teuku Umar berdamai dengan Belanda. Ini merupakan siasat belaka bagi Teuku Umar. Ia dipercayakan membawa 32 orang tentara untuk menumpas pasukan Raja Teunom yang menyita kapal Inggris. Tetapi di perjalanan Teuku Umar membunuh ke 32 orang tentara itu dan mengambil senjatanya. Usaha yang pura-pura berdamai itu dilanjutkan lagi untuk kedua kalinya pada tahun 1893. Teuku Umar dipercayakan lagi membawa 250 orang prajurit untuk menumpas para pejuang Aceh. Penumpasan itu dilakukan secara pura-pura, karena sebelumnya para pejuang Aceh sudah diberitahukan terlebih dulu akan kedatangan mereka. Belanda terus menambah perlengkapan perang, karena selalu percaya akan kemampuan Teuku Umar.
          Tetapi pada tanggal 29 Maret 1896, Teuku Umar berbalik haluan dengan membawa lari 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, uang 18.000 dolar dan peralatan lainnya. Atas kejadian ini Belanda menjadi marah dan menggerakkan pasukannya di bawah pimpinan Tentara Hindia Belanda, yaitu Jenderal Van Heutz. Pertempuran pun meletus pada tanggal 10 Februari 1899 malam dan Teuku Umar terkena tembakan, sehingga beliau pun gugur sebagai kesuma bangsa.
 
          Demikianlah kisah perjuangan beliau dalam melawan penjajah Belanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *