SEJARAH SINGKAT SULTAN AGUNG (1591 – 1645)

diajar.net 17

 

AVvXsEglB5IHdeQOTF5PAxzA4d8X1tmZceeFsJB3ppxhyBQdm9esYaZN7FvVM6dSdioOpkNdjaxgw0cCK 1GlCg3joEcdCfJG7ORPt5EBnwuCXt6cX ETbSksgSBZECcjA9LuqgwWTU4ccgaSATSb4OwovFfX9t fJGJ4UsUFZPtCq2IIyrLUSYXcO2h 0Vwlg

SEJARAH SINGKAT “SULTAN AGUNG (1591 – 1645)”

 PAHLAWAN NASIONAL 

“Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 106/TK/Tahun 1975, tanggal 3 Nopember 1975.”

      “Sultan Agung Anyokrokusumo” adalah cucu dari “Sutawijaya” atau yang lebih dikenal dengan nama “Panembahan Senopati” pendiri Kerajaan Mataram. Sultan Agung dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1591. Ia merupakan penguasa lokal Indonesia pertama yang mengadakan peperangan dengan Belanda secara teratur dan besar-besaran.
        Kekuasaan pemerintah Sultan Agung meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Pada masa ini kompeni Belanda telah menguasai pula beberapa daerah di Indonesia, antara lain Batavia. Hak monopoli dagang yang dituntut Belanda sangat bertentangan dengan pendirian Sultan Agung, apalagi setelah Belanda mengadakan perampokan di Bandar Jepara.
      Pertentangan ini semakin lama semakin meruncing sehingga peperangan tak dapat dihindarkan lagi. Untuk itu, Sultan Agung
mempersiapkan seluruh kekuatan wilayahnya. Dengan peralatan dan jumlah prajurit yang besar, mereka bergerak dari pedalaman Jawa Tengah menuju Batavia. Perjalanan itu memakan waktu sampai dua atau tiga bulan. Melalui hutan-hutan besar dan rawa-rawa. Beberapa orang panglima perangnya ikut memimpin antara lain “Baurekso dan Tumenggung Suro Agul-agul”.
      Dua kali serangan dilakukan oleh pasukan Mataram. Pertama pada tahun 1628 dikerahkan 50 buah kapal. Pasukan Mataram naik ke darat dan menyerang pertahanan Belanda dengan bersenjatakan tombak. Pertempuran berlangsung siang dan malam. Tak kurang dari 2.866 serdadu Belanda dikerahkan. Karena persenjataan mereka dilengkapi dengan meriam-meriam, pasukan Mataram tidak berhasil menundukkan pertahanan Belanda.
      Serangan berikutnya dilancarkan lagi pada tahun 1629. Sekarang dengan bala tentara maupun peralatan yang lebih baik. Kali ini dengan pasukan berkuda dan gajah-gajah pengangkut meriam. Gudang-gudang makanan pun didirikan di Tegal dan Cirebon. Pasukan mereka akhirnya dapat memasuki Batavia dan menghancurkan benteng Hollandia. Namun, pasukan Mataram tak dapat bertahan lama karena kelaparan disebabkan gudang-gudang bahan makanan mereka dapat dibakar Belanda. Serangan pasukan Mataram ini pun gagal.
      Sejak itu Sultan Agung tidak mengadakan serangan lagi. Sampai akhir hayatnya tahun 1645, ia tak pernah mau berdamai dengan Belanda. Sikapnya ini telah menanamkan benih-benih anti penjajahan dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan wilayahnya. Sultan Agung adalah penganut agama Islam yang patuh. Ia pun terkenal bijaksana dan berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaannya.

“Sumber gambar : IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *