SEJARAH PERJUANGAN SURYOPRANOTO (1871 — 1959)


AVvXsEinf2LiqQjc4KZHk5jdwOxHPrQd1Iaq7mK6M9ZXC0ixDGuf2WYsZhi56lTjwA7ls5RHGZLMJ hLXNw4TV vuHh FadsJuX qF1nIQdSudhqIlEq7Pt5FSHwEYd4fNNaQCtktOtzqd2fdUNn5XFSu
SEJARAH PERJUANGAN SURYOPRANOTO (1871 — 1959)
 
 

PAHLAWAN PERGERAKAN NASIONAL

 
 

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 310/Tahun 1959, Tanggal 30 Nopember 1959.

 
 
          Raja Pemogokan atau De Stakingskoning, itulah nama julukan yang diberikan oleh pemerintah Belanda kepada Suryopranoto. Ia menentang penjajahan Belanda dengan memimpin pemogokan-pemogokan kaum buruh di pabrik-pabrik gula dan rumah pegadaian.
 
 
          Iskandar yang kemudian lebih dikenal dengan nama Suryopranoto dilahirkan pada tahun 1871 di Yogyakarta. Ia adalah cucu Pakualam III. Ayahnya bernama Pangeran Suryaningrat. Suryopranoto adalah kakak Ki Hajar Dewantara berlainan ibu.
 
 
          Mula-mula Suryopranoto bekerja sebagai pegawai negeri di kantor Kontrolir di Tuban, setelah menamatkan pendidikan pegawai negeri. Tapi pekerjaan itu tak lama dijalaninya. Ia menempeleng atasannya seorang Belanda, karena menghina seorang pegawai bangsa Indonesia. Selain itu ia pernah pula menempuh pendidikan pada Sekolah Pertanian di Bogor dan diangkat menjadi Kepala Dinas Pertanian di Wonosobo. Namun pada tahun 1914 ia minta berhenti sebagai protes atas pemecatan seorang pegawai bangsa Indonesia yang menjadi anggota Sarekat Islam. Selanjutnya ia tak sudi lagi bekerja pada Pemerintah Belanda.
 
 
          Suryopranoto kemudian mencurahkan perhatiannya untuk membela kepentingan kaum buruh yang tertindas akibat penjajahan. Tahun 1914 ia mendirikan organisasi Adhi Dharma yang bergerak di bidang koperasi, pertukangan dan sebagainya. Juga mendirikan sekolah HIS (SD) Adhi Dharma. Tuntutan yang diajukannya untuk menaikkan upah buruh dan jaminan sosial yang layak mendapat halangan dari pihak Belanda.
 
 
          Pada tahun 1922 terjadi pemogokan 3.000 buruh pegadaian di Yogyakarta dan kemudian menjalar ke tempat-tempat lain. Ribuan buruh dipecat karena pemogokan itu, sehingga Suryopranoto mendirikan sebuah badan untuk menolong keluarga buruh yang dipecat itu. Akibat kegiatannya itu Suryopranoto berkali-kali dimasukkan ke dalam penjara. Dalam tahun 1923 ia masuk penjara di Malang, tahun 1926 di penjara Semarang dan dalam tahun 1933 di penjara Sukamiskin Bandung.
 
 
          Pada masa pendudukan Jepang, Suryopranoto menolak untuk bekerja sama dengan Pemerintah Jepang. Di zaman kemerdekaan beliau memberikan kursus politik kepada para pemuda. Karena usianya yang sudah lanjut, mulai tahun 1949 ia berhenti sama sekali dari segala kegiatan. Pada tanggal 15 Oktober 1959,Suryopranoto wafat dengan tenang di Cimahi dan jenazahnya dimakamkan di Kotagede, Yogyakarta.
 
          Demikianlah kisah kehidupan dan perjuangan beliau demi negara Indonesia tercinta ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *