SEJARAH KODIFIKASI AL-QUR’AN

3 2
SEJARAH KODIFIKASI AL-QUR’AN Dengan Artikel ini saya akan membahas tentang salah satu kitab suci agama Islam yaitu :
 
AL-QUR’AN mulai dari awal mula Zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga sampai sekaran dengan Perkembangan Tanda Baca, yang selalu kita baca setiap hari.
       Sebelum saya memulai membahasnya, sebaiknya terlebih dahulu membaca “Basmalah”.
 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ 
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan pasti kami (pula) yang memeliharanya.”
(الحجر : ٩) (Q.S. AL-Hijr : 9)

Zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

 
Pengumpulan Al-Qur’an ditempuh melalui dua cara, yaitu :
1. Al-jam’u fiș-șudūr (dikumpulkan di dalam hati), yaitu dilakukan melalui metode hafalan para sahabat dan
2. Al-jam’u fis-suțūr (dikumpulkan di media tertentu), yaitu dilakukan dengan menuliskan ayat-ayat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu di pelepah kurma, lempengan batu, kulit hewan, ataupun tulang hewan.
 
• Hasil penulisan Al-Qur’an belum tersusun secara berurutan sesuai ayat ataupun surahnya, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan petunjuk kepada para penulis ayat-ayat Al-Qur’an tentang letak tiap-tiap ayat dan surah.
 
 
 

Zaman Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq

 
 
• Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Aisyah menyimpan beberapa naskah (manuskrip) Al-Qur’an. Naskah-naskah ini pun kemudian dikumpulkan, tetapi susunannya didasarkan pada urutan turunnya ayat.
• Pengumpulan naskah-naskah Al-Qur’an pada masa Abu Bakar ini disebabkan gugurnya banyak para penghafal Al-Qur’an pada Perang Yamamah. Umar bin Khaththab yang mula-mula mengusulkan agar naskah-naskah tulisan Al-Qur’an dikumpulkan dan dijadikan satu. Abu Bakar sempat menolak dan menyatakan tidak berani menginstruksikan dilaksanakannya usulan Umar. Namun, usulan Umar akhirnya diterima karena hal itu sangat penting artinya dan tidak lain adalah suatu kebaikan.
• Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit untuk menjadi penanggung jawab utama dalam memeriksa dan meneliti naskah-naskah
Al-Qur’an yang ada untuk kemudian dikumpulkan dan disusun ke dalam satu jilid besar (master volume).
• Setelah menjadi satu volume besar, naskah
Al-Qur’an hasil pengumpulan Zaid ini disimpan oleh Abu Bakar. Peristiwa itu terjadi pada tahun 12 H (Hijriah).

Zaman Khalifah Umar bin Khaththab

 
 
• Setelah Abu Bakar wafat, naskah besar ini disimpan oleh khalifah sesudahnya, yaitu Umar. Sepeninggal Umar, master volume ini disimpan oleh putri Umar yang hafal Al-Qur’an, Hafshah binti Umar r.a. Hafshah terpilih untuk menjaga mushaf juga dengan pertimbangan dia adalah salah seorang istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
 
Umar mengirim para sahabat yang kredibel dan memiliki kapasitas tinggi dalam bidang bacaan dan kandungan Al-Qur’an ke wilayah-wilayah Islam yang baru dikuasai.

Zaman Khalifah Utsman bin Affan

 
 
• Adanya benih-benih perselisihan di antara pemeluk Islam dari kalangan non-Arab karena mereka membaca Al-Qur’an dengan dialek bahasa masing-masing membuat Ustman berinisiatif meminta Hafshah untuk meminjamkan mushaf yang dipegangnya agar disalin oleh tim yang telah dibentuk Utsman.
• Kodifikasi dan penyalinan kembali mushaf
Al-Qur’an ini terjadi pada tahun 25 H (Hijriah). Pada proses kodifikasi ini, Utsman berpesan bahwa apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan ayat-ayat tertentu maka agar mengacu pada dialek suku Quraisy karena Al-Qur’an diturunkan dengan gaya bahasa mereka.
• Utsman membuat salinan Al-Qur’an sejumlah 6 mushaf.
• Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar, yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam, dan Yaman. Utsman sendiri meminta satu mushaf untuk ia simpan di Madinah. Mushaf ini belakangan dikenal sebagai “Mushaf Al-Imam”.
 
• Tulisan yang dipakai oleh tim yang dibentuk Utsman untuk menyalin mushaf itu berpegang pada rasm al-anbath; yang tidak dilengkapi syakl (harakat/tanda baca) ataupun nuqath (titik sebagai pembeda huruf).

Zaman Khalifah Ali bin Abu Thalib

 
 
• Tersebarnya cahaya Islam di hampir penjuru dunia dan dipeluk oleh berbagai macam suku dan bangsa yang memiliki bahasa yang berbeda-beda memberikan inspirasi kepada salah seorang karib Khalifah Ali bin Abu Thalib, Abu Aswad ad-Du’ali, untuk membuat tanda baca (nuqathuli’rāb) yang kemudian dikenal dengan istilah “harakat”.
 
 
 
Hingga pada akhirnya maka sesuai dengan perkembangan Zaman jadi di buatlah sesuai dengan;

Perkembangan Tanda Baca

 
 
• Adapun yang pertama kali membuat tanda titik untuk membedakan huruf-huruf yang sama karakternya (nuqathu harf) adalah Nashr bin Ashim (w. 89 H.) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, salah seorang gubernur pada masa Dinasti Umayyah (40-95 H.).
• Pada perkembangan berikutnya, Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H.) menyempurnakan tanda baca berupa ” fathah, kasrah, dhammah, sukun, dan tasydid seperti yang kemudian kita kenal sekarang ini.
• Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama berijtihad untuk semakin mempermudah orang dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an
khususnya orang-orang non-Arab dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid berupa “isymām, dan madd”.
• Para ulama ini juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat, mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), dan menerangkan identitas surah di awal setiap surah; terdiri dari nama, tempat turunnya surah, jumlah ayat, dan jumlah ‘ain.
• Tanda-tanda lain yang dibutuhkan pada tulisan
Al-Qur’an adalah tajzī’ yaitu tanda pemisah antara satu juz dan juz yang lainnya berupa kata ” juz” diikuti dengan peno-morannya (misalnya, al-juz’uś-śāliśu untuk juz 3) dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa setengah juz, seperempat juz, seperlima juz, dan sepersepuluh juz.

Akhir Kata :

       Demikianlah sejarah Al-Qur’an yang serin kita baca melalui proses yang cukup panjang dengan pengumpulan-pengumpulan mushaf dari zaman ke zaman sehingga kita bisa membaca dan memahami artinya dengan mudah. Maka dari itu hargai dan jagalah Al-Qu’an karena bukan sekedar kitab suci tapi inilah tanda bukti kebesaran Allah yang di tunjukkan dengan pembuktian nyata, di jelaskan dalam isi ayat Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *