PERJUANGAN KYAI HAJI AHMAD DAHLAN (1868 – 1923)

PAHLAWAN PERGERAKAN NASIONAL

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 657/Tahun 1961, Tanggal 27 Desember 1961.

 
          Perjuangan untuk pembaharuan di bidang agama yang dijalankan oleh Ahmad Dahlan mendapat tantangan dari berbagai pihak. Tak urung suraunya sendiri dibakar orang, ketika ia membetulkan arah kiblat di langgar-langgar dan mesjid-mesjid di Yogyakarta. Ini terjadi pada tahun 1896.
 
 
          Muhammad Darwis yang kemudian dikenal dengan nama Kyai Haji Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1868. Ia adalah putera ke empat dari Kyai Haji Abubakar,  Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Selain mendapat pendidikan agama di pesantren, Ahmad Dahlan banyak pula membaca buku ilmu pengetahuan. Sewaktu menunaikan ibadah haji ke Mekkah, ia memperdalam pengetahuannya tentang qirat, tauhid, tasawuf dan ilmu falak. Pada waktu itu pula ia terpengaruh oleh cita-cita pembaharuan Islam. Ia berpendapat, bahwa umat Islam Indonesia sedang mengalami kemunduran. Tidak adanya persatuan di kalangan umat Islam sendiri, menyebabkan pemerintah Belanda dengan mudah memecah-belah kekuatan Islam.
 
 
          Atas dasar keadaan ini, Kyai Haji Ahmad Dahlan berusaha memperbaikinya dengan melakukan pembaharuan dalam bidang agama. Untuk maksud tersebut, maka pada tahun 1912 ia mendirikan Muhammadiyah. Muhammadiyah bergerak dalam bidang pendidikan agama Islam dan berusaha membangun masyarakat Islam yang sebenarnya. Sejalan dengan itu, Kyai Haji Ahmad Dahlan giat sekali mengadakan dakwah. Pelajaran agama diberikan di sekolah-sekolah umum dan di sekolah-sekolah agama diberikan pula pengetahuan umum yang sebelumnya dianggap tabu.
 
 
          Perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam pembaharuan di bidang agama Islam ini mengandung risiko amat besar. Ia pernah diancam untuk dibunuh, ketika berdakwah pada waktu membentuk Muhammadiyah di Banyuwangi. Ia pun dituduh sebagai Kyai palsu, karena berani mengajarkan pengetahuan umum di sekolah agama. Namun hal itu lama kelamaan dapat juga diterima masyarakat.
 
 
          Kemajuan Muhammadiyah berkembang terus dengan didirikannya rumah-sakit, poliklinik dan rumah yatim piatu. Guna memajukan kaum ibu, maka pada tahun 1918 didirikan Aisyiah. Di samping itu dibentuk pula kepanduan Hizbul Wathan bagi generasi muda.
 
 
          Kyai Haji Ahmad Dahlan meninggal dunia pada tanggal 23 Pebruari 1923 di Yogyakarta, sebagai pendiri dan Bapak Muhammadiyah.
          Demikianlah kisah beliau sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *