Mengapa Wanita Memilih Menjadi Atlet?

Sebagian orang menganggap fisik wanita lebih rapuh daripada pria. Namun, saya sendiri tidak sepakat dengan pendapat tersebut. Alasannya karena saat ini banyak juga kaum Hawa yang memilih profesi sebagai atlet, yang tentunya membutuhkan fisik yang prima, karena mereka harus berlatih dan bertanding dalam jangka waktu yang panjang.

Banyak sekali kita temui para wanita yang memilih jalan hidupnya sebagai olahragawati. Di Indonesia kita mengenal para Srikandi yang mengharumkan nama bangsa, dalam bulutangkis era sembilan puluhan ada Susy Susanti, yang meraih medali emas di Olimpiade Barcelona, sampai di olimpiade Tokyo dua tahun silam, dua perempuan mengharumkan Indonesia dengan raihan medali emas, yaitu Gresya Polie dan Apriani Rahayu. Di ankat besi kita mengenal Windi Cantika Aisyah, di sepakbola ada Zahra Musdilifah, dan masih banyak lagi olahragawati yang lainnya. Melansir liputan6.com, dalam pekan olahraga nasional Papua ada 2.787 wanita meramaikan ajang empat tahunan ini.

Dalam kancah internasional pun, nama-nama seperti Alexia Putellas, Serena Williams, dan masih banyak lagi perempuan yang menjadikan olahraga sebagai profesi utamanya. Mereka pun juga memiliki prestasi yang tidak kalah dengan apa yang didapatkan oleh kaum adam. Perlu dicatat, mereka pun sudah banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak.

Lalu, apa yang menjadi alasan kenapa mereka menjadikan olahraga sebagai profesi?

ada banyak alasan mengapa mereka memilih olahraga menjadi jalan hidupnya, ada yang benar-benar suka, ada yang ingin mewujudkan mimpi sang ayah, dan ada yang ingin mendapatkan prestasi, sampai dengan menyetarakan jender. Salah satunya adalah Sahra Hassan, seorang pegolf profesional, Wales.

Shara mengakui setiap muslimah memiliki bakat dalam bidang olahraga. Akantetapi, orang tua mereka tidak berkenan untuk memberikan kesempatan mengembangkan bakat itu.

“Aku ingin membuktikan kepada muslim muda, muslimah dan perempuan Wales bahwa prinsip dan budaya dapat mendukung karir anda dalam dunia olahraga. Aku pun ingin menjadi pegolf muslimah terbaik di dunia,” ucapnya.

Cerita yang berbeda hadir dari Susy Susanti,

“Saya mengenal bulu tangkis di usia 6-7 tahun, waktu itu ayah saya yang mengenalkan bulu tangkis karena keluarga juga pemain bulu tangkis. Ayah saya yang ingin dan memimpikan menjadi juara bulu tangkis tapi karena cedera jadi pupus. Ini saya meneruskan cita-cita ayah saya,” kata Susi dalam Talk Show Hari Ibu 2021, Rabu (22/12/2021).

“Sempat waktu itu atlet wanita itu sangat sedikit. Saya memulai pada waktu itu untuk bisa berjuang dan saat latihan saya banyak ikuti kejuaraan kecil dan akhirnya bisa masuk ke tim nasional,” tambahnya.

Shara dan Susi adalah contoh dua olahragawati yang berprestasi. Mereka pun pernah menghadapi pandangan negatif karena menjadi atlet. Namun mereka tetap kuat dan membuktikan pada halayak, bahwa profesi yang dipilih sangatlah tepat. Di kalangan difabel pun sekarang sudah banyak sekali para atlit wanita, seperti di goalball, badminton, angkat berat dan lainnya. Oleh karena itu, pandangan bahwa wanita berfisik lemah itu sama sekali tidak benar. Penulis pun sering melakukan uji tanding dengan para pemain goalball wanita, saya akui, beberapa dari mereka fisiknya jauh di atas saya. Semoga kisah yang penulis hadirkan ini mampu membuat para perempuan semakin semangat untuk berolahraga, bahkan jangan ragu untuk menjadi pelaku olahraga.

Sumber:

https://khazanah.republika.co.id/berita/m5fxx9/menjadi-atlet-muslimah-kenapa-tidak

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20211222192643-33-301296/cerita-susi-susanti-melawan-stigma-negatif-jadi-atlet-wanita 

Penulis: Ikhwan Khanafi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *