K.H. MOH. HASYIM ASY’ARI (1875 — 1947)


AVvXsEhZ0UPpj rGoYmoJThiTbeOr3SRaT7sS7fqOsixGdl1XUL41IQtqAZ7gkW nFcby6KIzy ExZpdseuyISFzMxYqaCBul 2dgGcxBWn9BL K1JDuXAX YA3Fv2OYkQ3ZB17ooEnm2WMp 0NeVHaWuXXrxpx4e4M0xtX1Bqywi5btoatOT7Wp ADXjCwJAXOR
K.H. MOH. HASYIM ASY’ARI (1875 — 1947)
 
 

PAHLAWAN PERGERAKAN NASIONAL

 
 

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 294/Tahun 1964, Tanggal 17 Nopember 1964.

 
 
          Kyai Haji Hasyim Asy’ari adalah pelopor persatuan umat dan tokoh modernisasi pesantren. Ia dilahirkan di Demak pada tanggal 20 April 1875. Sejak kecilnya Hasyim sudah biasa hidup di lingkungan yang bersifat keagamaan. Baik ayah maupun kakeknya dari pihak ibu adalah pemimpin-pemimpin pesantren yang terkenal. Pada umur 13 tahun Hasyim sudah dapat mengajarkan beberapa buku agama kepada teman-temannya.
 
 
          Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, Hasyim bertolak ke Mekkah pada tahun 1896. Ia tinggal di sana selama 7 tahun dan menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Mekkah ia mengajar pada pesantren kakeknya.
          Tetapi kemudian ia sendiri mendirikan pula sebuah pesantren sendiri di desa Cukir, Jombang. Pesantren itu dinamakan Pesantren Tebuireng dan didirikan pada tahun 1907.
 
 
          Pesantrennya itu mendapat banyak kecaman, karena cara ajarannya dianggap bid’ah. Di pesantrennya itu bukan saja diajarkan pengetahuan agama, tetapi juga pengetahuan umum. Murid-muridnya disuruh belajar huruf Latin, menulis dan membaca buku-buku pengetahuan umum, bahasa Inggris, berorganisasi dan berpidato. Kecaman-kecaman itu tidak dihiraukan oleh Hasyim. Baginya mengajarkan agama berarti pula memperbaiki manusia, mempersiapkan diri mereka, agar siap terjun ke masyarakat.
 
 
          Terbentuknya organisasi Nahdatul Ulama (NU) adalah atas saran Kyai Haji Hasyim Asy’ari. Organisasi itu merupakan wadah umat Islam untuk membicarakan masalah-masalah keagamaan, hukum Islam dan sebagainya. NU berdiri pada tahun 1926 dan Kyai Haji Hasyim Asy’ari dipilih menjadi Raisul Akbar atau pemimpin Pengurus Besar.
          Kyai Haji Hasyim Asy’ari sangat membenci perpecahan umat Islam. Pemerintah Belanda merasa khawatir akan pengaruh Kyai Haji Hasyim Asy’ari dengan dugaan akan menggerakkan massa untuk menantang mereka. Dari itu Belanda berusaha membujuk Kyai Haji Hasyim Asy’ari dengan menawarkan suatu jabatan dalam pemerintahannya. Tetapi tawaran itu ditolaknya.
 
 
          Pada waktu pendudukan Jepang, Kyai Haji Hasyim Asy’ari ditangkap, karena tidak senang dengan cara-cara memberi hormat kepada Kaisar Jepang. Tapi atas usaha anaknya Wahid Hasyim, ia kemudian dibebaskan. Pada masa perjuangan Kemerdekaan, Kyai Haji Hasyim Asy’ari ikut membakar semangat para pejuang kita melalui pidato-pidatonya.
          Kyai Haji Hasyim Asy’ari meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1947 dan dimakamkan di Tebuireng.
 
Demikianlah kisah kehidupan dan perjuangan beliau sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional, di masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *