Cerita Abu Nawas Pertanyaan Jebakan Baginda Raja

Assalamualaikum semuanya semoga kalian semua dalam keadaan sehat dan
dilancarkan rezekinya Amin ya robbal alamin
Pada suatu hari Baginda Raja mengundang beberapa tokoh sufi untuk berkumpul di
istananya tak lupa Abu Nawas juga turut serta diundang hal ini membuat Abu Nawas
merasa heran sebab biasanya yang diundang untuk berkumpul adalah para
pejabat istana apalagi saat itu Baginda Raja Sedang kedatangan rombongan tamu
dari kerajaan Negeri seberang Karena penasaran Abu Nawas pun memberanikan
diri bertanya kepada Baginda Raja ampun Paduka yang mulia 


tidak
biasa-biasanya Paduka mengundang Kami para tokoh sufi Memangnya ada masalah
apa tanya Abu Nawas Saya punya satu pertanyaan bila
ditanyakan kepada para pejabat istana pasti jawabannya sama maka dari itu saya
ingin dengar pendapat kalian Itulah kenapa saya mengumpulkan kalian di sini
jawab Baginda Raja Mendengar hal itu Abu Nawas pun mulai
mengerti alasannya sebab Baginda Raja memang seringkali lebih tertarik dengan
jawaban yang unik Siapa lagi kalau bukan dari para tokoh sufi kemudian Baginda
Raja pun memulai pertanyaannya kepada tokoh sufi yang pertama Bagaimana
perasaanmu jika aku meninggal nanti tanya Baginda Raja
Sufi pertama seketika terkejut mendengar pertanyaan tersebut pertanyaan ini
sepertinya sepele tapi rawan jebakan salah-salah bisa kena hukuman
tentu saja saya merasa kehilangan dan bersedih karena Paduka adalah raja kami
jawab Sufi pertama jawabanmu Tak ubahnya seperti pejabat
istana tapi kalau mereka wajar menjawab demikian Sebab mereka takut bila raja
yang baru akan memecat mereka dan diganti dengan orang lain sedangkan kamu kamu seringkali
mengkritik kebijakan Saya bahkan terkadang menganggap saya tidak adil Bagaimana mungkin kamu akan merasa sedih
dan kehilangan Ucapanmu tak sesuai dengan isi hatimu ujar Baginda Raja
maka Sufi pertama pun ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara
melihat hal itu para tamu yang hadir kagum dengan ketegasan Baginda Raja
sekarang giliran sufi yang kedua Ia dipanggil dan ditanya Baginda Raja
Bagaimana perasaanmu jika aku meninggal nanti tanya Baginda Raja
Paduka memang raja yang adil dan bijaksana tapi menurutku tak perlu ada
yang disedihkan 


karena pada dasarnya kita semua juga akan mati untuk apa
menangisi kematian orang lain sedangkan kematian kita sendiri kita belum tahu
akan selamat atau tidak di akhirat kelak jawab Sufi kedua [Musik]
jawabanmu memang benar Tapi kamu sama sekali tidak punya rasa cinta pada
rajamu sedangkan aku sudah berusaha sekuat tenaga memimpin negeri ini dengan
adil dan bijaksana Jadi selama ini kamu lebih memikirkan dirimu sendiri tutur
Baginda Raja Baginda Raja pun menyuruh para pengawal untuk menangkap Sufi kedua dan
memasukkannya ke dalam penjara untuk kedua kalinya Baginda Raja membuat
kagum para tamunya yang dari negeri seberang Anda memang raja yang tegas dan
bijaksana Puji salah satu tamunya setelah satu persatu tokoh sufi ditanya
dan kesemuanya masuk penjara kini tibalah giliran Abu Nawas
wahai Abu Nawas Bagaimana perasaanmu jika aku meninggal nanti tanya Baginda
Raja [Musik] Sebelum saya menjawab pertanyaan Baginda Bolehkah saya minta satu permintaan
minta Abu Nawas apa permintaanmu tanya
Baginda Raja kembali kalau sekiranya jawaban saya bisa memuaskan Paduka Saya minta supaya
kawan-kawan saya dibebaskan dari hukuman jawab Abu Nawas
Baik saya setuju tapi bila jawabanmu tidak membuatku puas kamu akan dihukum
dua kali lipat lebih berat balas Baginda Raja Abu Nawas pun menyanggupi syarat
tersebut jika Paduka meninggal nanti entahlah mungkin nanti tidak ada lagi tanah
tempat saya 


berpijak ucap Abu Nawas mendengar jawaban tersebut Baginda Raja
langsung tersenyum meski sebenarnya ia masih bingung apa maksud sebenarnya dari
jawaban Abu Nawas sesuai kesepakatan tawan kawannya yang juga tokoh sufi
segera dibebaskan dan dipersilahkan pulang begitu juga dengan para tamu
undangan mereka dipersilahkan pulang oleh Baginda Raja tapi ketika Abu Nawas
hendak pulang ia dicegah oleh Baginda Raja Abu Nawas kamu jangan pulang dulu ada
sesuatu yang ingin aku tanyakan kita Baginda Raja Abu Nawas pun berjalan menghampirinya
Ada apa lagi Pak Duka tanya Abu Nawas maksud dari jawabanmu tadi sebenarnya
apa sih Abu Nawas tanya Baginda Raja penasaran maksud saya jika yang mulia nanti
meninggal dunia aku tak sanggup lagi hidup di atas bumi ingin rasanya aku
segera menyusul Paduka yang mulia jawab Abu Nawas Wah bagus sekali tapi Lain kali kalau
sedang di tengah para tamu-tamu saya Bicaralah yang jelas supaya aku bisa
paham jangan seperti tadi tidak elok rasanya kalau raja sampai jadi tontonan
para tamu hanya karena tidak paham maksud pembicaraan lawan bicaranya ujar
Baginda Raja Abu Nawas lalu diberi hadiah dan dipersilahkan pulang
ketika ia berjalan meninggalkan istana ternyata kawan-kawannya juga belum
pulang Mereka setia menunggu Abu Nawas di luar gerbang istana
Kenapa kalian masih di sini Ayo kita pulang ajak Abu Nawas
kami sengaja menunggumu Abu Nawas karena kami juga penasaran apa sih maksud
jawabanmu itu Jujur saja kami masih bingung menafsirkan kalimatmu ucap salah
satu kawannya dengan tersenyum Abu Nawas berkata
ketika aku menjawab tidak ada lagi tanah tempat saya berbijak Padahal maksud
jawabanku tadi adalah kalau nanti Baginda Raja meninggal dunia kuperkirakan penggantinya akan jauh
lebih rakus darinya sehingga makin banyak tanah rakyat yang digusur
sampai-sampai kita tidak bisa berpijak lagi setelah mendapat penjelasan dari 


Abu Nawas kawan-kawannya yang sesama tokoh sufi memuji akan kecerdasan dan
kecerdikan Abu Nawas kisah selanjutnya
nuaiman adalah sahabat nabi yang terkenal dengan ulah isengnya hampir
semua orang yang ia kenal pasti pernah dikerjainnya bahkan Rasulullah sendiri
tak luput dari perbuatan usil nuhaiman para sahabat menyebutkan tidaklah
rasulullah dalam keadaan sedih kecuali nuaiman datang dan Rasulullah akan
tersenyum sebab hanya nuaiman yang bisa membuat sedihnya Rasulullah berubah
menjadi tawa namun dibalik kelucuannya yang sering membuat Rasulullah tertawa
nuaiman ternyata seorang pemabuk setiap kali ia kedapatan mabuk-mabukan
Rasulullah menghukum cambuk bukannya kapok tapi justru ia sering mengulangi
perbuatannya yang membuat para sahabatnya jadi geram mereka menganggap nuaiman mempermainkan
hukum Allah dan rasulnya suatu hari saat nuaiman kedapatan mabuk
lagi para sahabat langsung menangkap dan menghukumnya mereka mencambuk nuaiman
dan mencelanya semoga Allah melaknatmu nuaiman rasulullah 


yang mendengar itu langsung
menegur sahabatnya yang berkata demikian jangan kalian laknat waiman karena dia
cinta Allah dan rasulnya Bahkan dalam salah satu riwayat Rasulullah
menceritakan nuaiman akan memasuki surga dengan tertawa
itulah sekelungit mengenai sahabat nuhaiman Berikut ini akan kami ceritakan
Beberapa kisah lucu sahabat nuhaiman suatu kali sahabat Abu Bakar menemui
Rasulullah wahai Rasulullah saya minta izin Saya
ingin mengajak sahabat anda untuk ikut berdagang ke negeri Syam minta sahabat
Abu Bakar Siapa tanya Rasulullah doa Iman ya rasul
jawab sahabat Abu Bakar Rasulullah mengizinkannya dengan perasaan agak
sedikit terkejut sebab sifat dan itu aneh dan tidak bisa diprediksi dalam
perjalanan dagang tersebut Abu Bakar juga mengajak serta satu orang lagi
yaitu suaibit bin harmalah dua orang ini merupakan sahabat rasulullah yang
memiliki sifat bertolak belakang nuaiman sebagai sosok yang apa adanya
serta mengesalkan sedangkan suwaibit adalah sosok yang sangat jujur dan amanah
suhaib dipercaya oleh Abu Bakar untuk menjaga perbekalan makanan
setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh sampailah mereka bertiga di kota
Sam Setibanya di sana Abu Bakar langsung mulai sibuk pergi mengantarkan
dagangannya sementara 


nuaiman dan suaib duduk Setia menjaga perbekalan dan
dagangannya Abu Bakar hari pun menjelang siang perut nuaiman
mulai terasa keroncongan karena lapar nuaiman meminta bekal makanan kepada
suhaibit berikan aku roti perutku sangat lapar minta
tapi Permintaan nuaiman ditolak mentah-mentah oleh swipe saya juga lapar
tapi tunggulah sampai Abu Bakar datang ujar suwaibit kepada nuhaiman
berikan aku sepotong saja kata nuaiman memaksa
suwaibit tetap tidak mengizinkan nuaiman memakan bekal makanan yang dibawanya
sikap suaib ini membuat nuaiman jengkel Ia pun berniat membalas Apa yang
dilakukan suwaibit ia kemudian menemui sejumlah orang di pasar dan menawarkan
bahwa ia menjual seorang budak dengan harga yang cukup murah ingin menyebut bahwa budak yang ia
miliki sering mengaku kalau dirinya adalah orang yang merdeka setelah ada orang yang berniat membeli
budak nuaiman pun membawa calon pembeli ke hadapan suaib temannya sendiri
nuhaiman Langsung menunjuk suaib yang sedang duduk itu dia budak yang akan
saya jual kata 


nuaiman sontak saja swipe merasa terkejut dan
mengaku bahwa dirinya adalah orang Merdeka berkali-kali suwaibit menjelaskan bahwa
ia adalah orang yang merdeka kepada calon pembeli Namun karena sudah
dijelaskan nuaiman calon pembeli itu berkata kepada suhaibit tidak usah
mengelak kami sudah paham sifatmu suaib pun lalu dibawa oleh orang tersebut
setelah sohibbit dibawa sebagai budak tidak lama kemudian datanglah Abu Bakar
menghampiri nuhaiman mana suaib tanya Abu Bakar sudah saya jual jawab nuaiman
Mendengar hal itu Abu Bakar kaget Bukan main nuaiman pun menceritakan dengan
jujur kejadiannya kepada Abu Bakar kemudian suhaibit ditebus kembali oleh
Abu Bakar dari orang yang membelinya ketika cerita ini sampai ke telinga
Rasulullah Rasulullah pun tertawa hingga menunjukkan gigi gerahamnya
di masa kepemimpinan Khalifah Usman bin Affan nuaiman pernah juga mengerjai
kakek tua kala itu nuaiman yang sedang duduk santai melihat seorang kakek buta
tanpa kebingungan ia berjalan mondar-mandir dengan tongkatnya rasa
penasaran pun 


hinggap pada diri nuhaiman apa sih sebenarnya yang kakek tua itu
cari tanya nuhaiman dalam hati kakek buta tersebut adalah mahromah bin
Naufal usianya sudah 115 tahun Hai kakek tua mendekatlah Kemari ke sini
seru nuhaiman kemudian kakek buta itu mendekati suara
yang memanggilnya Kau ini kenapa kenapa dari tadi mondar-mandir terus tanya nuaiman
aku kebelet kencing tapi aku belum menemukan tempatnya jawab kakek buta itu
Oh ngomong dong dari tadi sahut nuhaiman kemudian nuaiman memegang tangan kakek
buta dan menuntunnya di saat itulah muncul ide usil nuhaiman ia mengantarkan
kakek buta itu masuk ke dalam masjid kala itu para sahabat sedang khusuk
melakukan salat
kita sudah sampai kek silahkan kakek mau ngapain aja terserah kata nuaiman
kakek buta lalu bertanya apakah di sini benar-benar aman Apakah tidak ada orang
nuaiman menjawab jangan khawatir aman lakukanlah keperluanmu seketika itu
nuaiman langsung pergi meninggalkan kakek buta dan menghilang entah kemana
sedangkan kakek buta mulai membuang hajat yang sudah lama diempetnya ia
kemudian membuka celana dan kencing di tempat 


pengimaman sontak situasi menjadi
gempar dan memanas para sahabat langsung mempercepat salatnya setelah selesai
salat mereka mendekati kakek buta dan hendak memukulnya Tetapi setelah
diinterogasi ternyata kakek tua itu matanya buta betapa malunya kakek buta itu ternyata
ia telah dijebak dan dipermainkan setelah mengetahui bahwa yang membuat
dia malu dan sial adalah nuaiman maka kakek buta itu berjanji akan mencari
nuaiman Saya tidak akan keluar dari kota Madinah Sebelum saya berhasil menemukan
nuaiman dan memukulnya dengan tongkat saya aksi NU Aiman ini sangat membuatnya
jengkel Sebab Dia dipermalukan dan menjadi tontonan Para jamaah yang sedang
sholat di masjid Sejak saat itu kakek buta terus mencari
keberadaan nuaiman ia bertanya ke sana kemari kepada setiap orang yang ia
jumpai namun tidak ada satupun yang mengetahuinya
tidak lama kemudian nuaiman datang kembali dan menghampiri kakek buta
Hei kakek buta kamu kenapa tanya nuaiman
Saya sedang mencari nuaiman dia telah mempermainkan dan mempermalukan saya
jawab kakek buta padahal yang berada di hadapannya adalah nuaiman sendiri tapi
karena tidak bisa melihat kakek buta itu tidak mengetahuinya lalu apa yang akan
kakek lakukan bila bertemu dengannya tanya nuaiman kembali saya akan memukulnya dengan tongkatku
ini Balas kakek buta mendengar itu muncul kembali sifat
usilnya nuaiman jangan khawatir kek saya akan antarkan kakek 


kepadanya ucap
nuhaiman nuaiman lalu memegang tangan kakek buta dan menuntunnya kembali ke masjid begitu
memasuki masjid ada beberapa sahabat yang sedang sholat termasuk sang
khalifah Utsman bin Affan Nah itu dia orangnya Hei kamu jangan pura-pura
sholat seru nuhaiman mana mana orangnya teriak kakek buta Tak sabar kemudian
nuaiman menyodorkan tongkat yang dipegang kakek tua ke tubuh Khalifah Usman bin Affan yang sedang sholat
dengan penuh dendam si Kakek buta memukulkan tongkatnya ke tubuh Khalifah
Usman bin Affan ia memukul dengan sangat keras dan bertubi-tubi kurang ajar
berani-berani nya kamu mempermainkan saya teriak kakek buta sambil terus memukul khalifah
Utsman bin Affan sementara Khalifah Usman bin Affan hanya diam saja karena ia sedang dalam keadaan
salat sontak hal ini membuat gembar seisi masjid hei Ada musuh yang mau membunuh
Amirul Mukminin teriak salah satu jamaah mendengar itu si Kakek buta kaget Bukan
main Ia pun langsung ditangkap dan diinterogasi ternyata laki-laki ini
adalah ulah nuaiman si Kakek menyesal malu dan merasa
bersalah berkali-kali ia meminta maaf kepada khalifah Utsman bin Affan sang khalifah
hanya tersenyum beliau 


sama sekali tidak mempermasalahkannya bahkan ketika para
sahabat hendak menghukum nuaiman atas perbuatan usilnya sang khalifah mencegahnya jangan ganggu dia Dia adalah
orang yang sangat dekat dan dicintai oleh Rasulullah kata sang khalifah
mewanti-wanti kisah selanjutnya mungkin yang kita tahu selama ini Abu
Nawas dikenal sebagai tokoh sufi yang nyeleneh dari Baghdad Namun ternyata dia
juga adalah seorang ulama sufi yang sangat menguasai ilmu agama
di sela-sela kesibukannya bolak-balik ke istana Abu Nawas selalu menyempatkan
waktu untuk mengajar murid-muridnya Ia juga sering kedatangan tamu yang
bertujuan hanya bertanya tentang masalah agama suatu ketika saat Abu Nawas sedang
mengajar datanglah seorang tamu pertama menghadap Abu Nawas
wahai Tuan Abu Nawas Manakah yang lebih utama orang yang mengerjakan dosa-dosa
besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil Abu Nawas 


menjawab yang lebih utama
adalah orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil Mengapa demikian wahai tuhan Abu Nawas
tanya tamu itu kembali sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan
balas Abu Nawas tamu pertama itu pun merasa puas dengan
jawaban Abu Nawas karena sejatinya ia yakin memang seperti itu
selanjutnya Datang tamu kedua menemui Abu Nawas Ia juga menanyakan persoalan
yang sama wahai tuhan Abu Nawas Manakah yang lebih utama orang yang mengerjakan dosa-dosa
besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil Abu Nawas menjawab orang yang tidak
mengerjakan keduanya Mengapa demikian wahai tuhan Abu Nawas
tanya tamu itu kembali dengan tidak mengerjakan keduanya tentu
tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan jawab Abu Nawas
tamu kedua itu pun bisa menerima dan memahami atas jawaban Abu Nawas itu
tidak lama berselang Datang tamu ketiga menemui Abu Nawas tamu tersebut juga
menanyakan hal yang sama wahai Tuan Abu Nawas Manakah yang lebih
utama orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan
dosa-dosa kecil Abu Nawas menjawab orang yang mengerjakan dosa-dosa besar
Mengapa demikian wahai tuhan Abu Nawas 


tanya tamu itu kembali
sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu
jawab Abu Nawas mendengar jawaban Abu Nawas membuat tamu
ketiga ini puas Ia pun lalu pamit pulang ternyata selama Abu Nawas menerima
ketika tamu tersebut ada salah satu muridnya yang selalu memperhatikan percakapan antara Abu Nawas dan
tamu-tamunya itu sang murid merasa bingung dengan jawaban gurunya Kenapa satu pertanyaan yang sama
tapi jawabannya berbeda-beda karena merasa penasaran Ia pun
memberanikan diri menanyakan hal itu kepada Abu Nawas selaku gurunya
wahai Tuan Guru saya perhatikan dari awal kenapa Tuan Guru memberikan jawaban
yang berbeda padahal ketiga tamu tadi menanyakan persoalan yang sama
Abu Nawas hanya tersenyum mendengar pertanyaan muridnya itu ia pun lalu
menjelaskan wahai anakku manusia itu dibagi menjadi
tiga tingkatan tingkatan yang pertama adalah tingkatan mata tingkatan yang kedua adalah
tingkatan otak dan tingkatan yang terakhir atau tingkatan yang ketiga adalah tingkatan hati
Adapun tamu yang pertama datang tadi tingkatannya adalah tingkatan mata 


wahai Tuan Guru tingkatan mata itu apa tanya si murid penasaran
Abu Nawas menjelaskan tingkatan mata ibarat anak kecil yang
melihat bintang di langit ia mengatakan bintang itu kecil karena ia melihatnya
hanya menggunakan mata sedangkan tamu kedua yang datang tadi tingkatannya adalah tingkatan otak
tingkatan otak Apa itu tingkatan otak wahai Tuan Guru tanya si murid kembali
tingkatan otak ibarat orang pandai yang melihat bintang ia pasti akan mengatakan
bintang itu besar karena Ia memang memiliki pengetahuan jawab Abu Nawas dan
tamu yang terakhir datang tadi atau tamu yang ketiga dia tingkatannya adalah
tingkatan hati lanjut Abu Nawas lalu apa itu tingkatan hati wahai Tuan
Guru tanya si murid semakin penasaran tingkatan hati ibarat orang pandai dan
mengerti yang melihat bintang di langit Ia tetap akan mengatakan bintang itu
kecil walaupun ia tahu bahwa bintang itu sebenarnya adalah besar
karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar melainkan
dengan kemaha besaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala jawab Abu Nawas 


setelah mendengar semua penjelasan gurunya itu si murid menjadi paham kalau
gurunya memberi jawaban sesuai dengan kapasitas si penanya Itulah kenapa satu pertanyaan
menghasilkan tiga jawaban yang berbeda kisah selanjutnya
Alkisah Baginda Raja akan mengadakan pesta untuk menyambut hari jadi Kota
Baghdad pada hari itu semua rakyatnya diundang dan dipersilahkan hadir untuk
menyantap hidangan sesuka hatinya dan tentu saja Abu Nawas pastinya
diikutsertakan dalam acara tersebut kali ini Abu Nawas mendapat tugas
memasak burung bangau goreng kesukaan Baginda Raja hari yang ditunggu-tunggu pun tiba saat
itu suasana istana sangat meriah sekali orang-orang berkumpul tanpa ada batasan
baik kaya maupun miskin namun saat 


pesta sudah dimulai Baginda
Raja terlihat gelisah padahal orang-orang sudah ramai menyantap hidangan akan tetapi Baginda Raja tetap
diam di kursi kebesarannya lalu salah satu menterinya bertanya pada Baginda
Raja ampun Paduka yang mulia Kenapa Baginda terlihat gelisah Apakah Baginda sedang
kurang bahagia tanya sang menteri tidak wahai menteri ku saya sedang
menunggu kehadiran Abu Nawas namun sampai saat ini kenapa ya belum juga
datang ucap Baginda Raja Apakah Baginda sudah mengundang Abu
Nawas untuk datang tanya menteri itu kembali aku sudah mengundangnya jawab Baginda
Raja malah aku menyuruh dia untuk memasak burung bangau kesukaanku
sang menteri lantas berkata kita tunggu Dia sebentar lagi berduka
pasti Abu Nawas akan datang sementara Abu Nawas yang sudah selesai
memasak burung bangau di rumah mulai bersiap-siap untuk dibawa ke istana
langit mulai gelap sebentar lagi pasti akan turun hujan aku harus cepat-cepat
sampai ke istana kata Abu Nawas sambil membawa hidangan burung bangau goreng 


Karena perjalanan yang ditempuh lumayan agak jauh di tengah jalan Abu Nawas
merasakan lapar perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi ujar Abu Nawas sambil menahan
laparnya mau tidak mau Abu Nawas pun lantas memakan satu paha burung bangau untuk
mengganjal perutnya yang lapar singkat cerita sampailah Abu Nawas di
istana Baginda Raja langsung terlihat ceria melihat kedatangan Abu Nawas
wahai Abu Nawas Kenapa lama sekali segera bawa ke sini makanan kesukaanku
ucap betina Raja kepada Abu Nawas Abu Nawas pun lantas memberikan nampan
berisi hidangan burung bangau goreng yang dimasaknya dari rumah saat nampan hidangan dibuka Baginda Raja
merasa heran kenapa paha kaki burung bangau cuman satu Ia pun lantas bertanya
kepada Abu Nawas Hei Abu Nawas kenapa paha Kakinya cuma
satu tanpa merasa berdosa Abu Nawas menjawab ampun Baginda burung bangau di sini
memang rata-rata kakinya cuman satu kalau Baginda tidak percaya coba bagi
anda lihat burung bangau di pinggiran kolam taman istana Tuh kan Mereka berdiri hanya dengan satu kaki ujar Abu
Nawas sambil menunjuk burung bangau yang memang sedang berdiri dengan satu kaki
Baginda Raja hanya manggut-manggut mendengar ucapan Abu Nawas
karena Langit Mendung pertanda 
Putri%20Duyung%20dan%20Lumba lumba%20(6)

akan hujan tidak lama kemudian terdengar
suara petir menyambar spontan beberapa burung bangau menjadi kaget dan
ketakutan lantas burung bangau tersebut mengeluarkan satu kaki yang sedari tadi
ditutupi oleh sayapnya hingga tampaklah kedua kakinya melihat hal itu Baginda Raja langsung
berkata kamu bohong Abu Nawas mana ada burung bangau kakinya cuman satu itu
buktinya kedua kakinya nampak semua ujar Baginda Raja sambil menunjuk ke arah
burung bangau yang sedang berdiri dengan kedua kakinya di pinggiran kolam istana
namun dengan entengnya Abu Nawas menjawab begini 


Baginda Raja ada kalanya
rasa takut yang berlebihan menyebabkan keajaiban Baginda burung bangau itu tadi
kaget dan ketakutan karena mendengar suara petir akhirnya kakinya menjadi dua
Baginda Raja sendiri yang biasanya berjalan dengan dua kaki tapi ketika
merasa takut di ruangan yang gelap pasti Baginda Raja akan berjalan dengan 4 kaki
yaitu berjalan dengan merangkak balas Abu Nawas tak mau kalah
Sekian dulu perjumpaan kita kali ini sampai bertemu lagi di kisah selanjutnya
Terima kasih yang sudah subscribe dan setia menonton channel ini wassalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *