Cerita Abu Nawas Abu Nawas Menakuti Anak Kecil

Assalamualaikum semuanya semoga kalian
semua dalam keadaan sehat dan
dilancarkan rezekinya Amin ya robbal
alamin
dikisahkan ada seorang wanita yang
kewalahan menghadapi anak satu-satunya
anak tersebut sangat bandel dan susah
diatur para tetangga kemudian
menyarankan supaya si anak dibawa ke
tempat Abu Nawas untuk dididik agar
menjadi anak yang baik maka berangkatlah
si wanita mengantarkan anaknya ke rumah
Abu Nawas
Sesampainya di sana wanita tersebut
mendapati Abu Nawas dalam 


masalah
pasalnya ia Tengah dimarahi sang istri
melihat hal itu si wanita pun
mengurungkan niatnya
sepertinya ini bukan waktu yang tepat
Lebih baik aku pulang saja ucap si
wanita dalam hati
namun saat ia hendak melangkahkan
kakinya meninggalkan rumah Abu Nawas
tiba-tiba ada suara memanggilnya
Jangan pergi dulu kemarilah teriak Abu
Nawas
si wanita lalu menghampirinya
Nyonya Ada perlu apa datang kemari tanya
Abu Nawas
Ia memang saya ada perlu tapi rasanya
ini bukan waktu yang tepat jawab si
wanita merasa tidak enak tidak apa-apa
katakan saja istri saya memang cerewet
jadi tidak usah kaget balas Abu Nawas
kemudian wanita tersebut mengadukan
permasalahan tentang anaknya yang bandel
dan susah diatur tolong Tuhan Abu anak
ini supaya ditakut-takuti sedikit karena
ia membuatku sedikit kewalahan ucapnya
Oh begitu baiklah Mari ikut saya ajak
Abu Nawas kemudian wanita dan anaknya
diantar ke ruangan tempat biasa Abu
Nawas mengajar di situlah Abu Nawas
memanfaatkan kesempatan untuk meluapkan
kekesalan atas sikap sang istri yang
barusan memarahinya
dengan wajah penuh amarah Abu Nawas
melototi si anak nafasnya terengah-engah
seolah menahan emosi 


kemudian tubuhnya
jungkir balik dan melepaskan tinjunya
kemeja hingga mengeluarkan suara keras
melihat perilaku Abu Nawas yang demikian
membuat si wanita ketakutan dan akhirnya
jatuh pingsan sementara anaknya hanya
bengong menyaksikan kejadian itu
akan tetapi Abu Nawas tetap melanjutkan
aksinya Ia pun melompat keluar ruangan
dengan menabrak pintu tidak lama
kemudian setelah si wanita siuman dari
pingsannya Abu Nawas kembali menemuinya
dengan terbata-bata si wanita berkata
Tuan Abu Saya minta Tuan menakut-nakuti
anak saya bukan saya dengan entengnya
Abu Nawas menjawab Nyonya bahaya tidak
mengenal sasaran seperti yang Anda lihat
Bahkan aku juga telah menakut-nakuti
diriku sendiri ketika bahaya mengancam
Ia juga mengancam semua orang kata Abu
Nawas Menjelaskan
akibat peristiwa itu si wanita kapok
untuk mendatangi rumah Abu Nawas
kisah selanjutnya
ada-ada saja ulah Abu Nawas kali ini ia
membuat kesalahan yang cukup serius
kesalahan yang ia perbuat adalah ia
sering datang ke berbagai tempat dan
meneriakkan khutbah yang sama Dalam
khutbahnya Abu Nawas selalu menyebut
bahwa para ahli ilmu yakni para ulama
sebagai orang yang 


bodoh tentu saja
khutbah yang disampaikan Abu Nawas ini
dianggap mengganggu ketenangan
masyarakat sebab Ia dengan mudahnya
mencela para ulama yang merupakan sosok
panutan masyarakat
akibat ulah Abu Nawas ini ia hampir saja
di buku warga Untunglah ada saja orang
lain yang dengan sikap menolong Abu
Nawas dari amukan warga
perbuatan Abu Nawas ini juga mengundang
reaksi kemarahan para ulama
para ulama ini pun bersepakat mengadukan
perbuatan Abu Nawas kepada Baginda Raja
batu duga yang mulia Kami ingin
mengadukan perbuatan Abu Nawas dia telah
membuat gaduh di tengah-tengah
masyarakat kata para ulama melaporkan
Memangnya apa yang telah Abu Nawas
perbuat tanya Baginda Raja
dia menyebut kalau para ulama adalah
orang yang bodoh dan ia mengatakannya di
berbagai tempat jawab mereka
sejenak Baginda Raja terdiam Baginda
Raja Tahu betul Bila Abu Nawas
mengatakan hal itu pasti ada maksudnya
Abu Nawas tak mungkin gegabah menuduh
seseorang bodoh apalagi seorang ulama 


Kenapa tidak kalian ajak saja Abu Nawas
untuk berdiskusi saran Baginda Raja
itu tidak mungkin Paduka yang mulia
karena perbuatan Abu Nawas ini juga
membuat warga marah bahkan Abu Nawas
hampir di Amuk warga Paduka yang mulia
tapi untungnya ada yang menyelamatkan
kalau dibiarkan terus-menerus Saya
khawatir Abu Nawas bisa mati di Amuk
warga Jadi kami minta kepada Paduka
supaya Abu Nawas dihukum dengan begitu
bisa meredam amarah warga Paduka yang
mulia ujar para ulama
sebagai raja yang adil Saya tidak
mungkin menghukum seseorang sebelum
orang tersebut membuat pembelaan begini
saja saya akan Panggil Abu Nawas kemari
kalau dia terbukti bersalah maka saya
akan hukum dia seberat-beratnya ucap
Baginda Raja
kemudian Baginda Raja menyuruh beberapa
pengawal istana menjemput Abu Nawas di
rumahnya
singkat cerita datanglah Abu Nawas
menghadap Baginda Raja Maka diadakanlah
pengadilan di mana Abu Nawas sebagai
terdakwanya di ruang persidangan
tersebut seluruh ulama Kota Baghdad
dikumpulkan mereka menuntut supaya Abu
Nawas dihukum atas perbuatannya
Hai Abu Nawas Benarkah 


kau mengatakan
bahwa ulama adalah orang yang bodoh
tanya Baginda Raja
benar Paduka yang mulia jawab Abu Nawas
Apa alasanmu berkata demikian Apa kau
tak menyadari perbuatanmu ini mengundang
reaksi kemarahan warga dan juga
menyakiti hati para ulama ujar Baginda
Raja
begini Paduka yang mulia Sebelum saya
menjawabnya Bolehkah saya minta beberapa
kertas dan pena minta Abu Nawas
Baginda Raja pun mengabulkan permintaan
Abu Nawas setelah kertas dan pena ia
dapatkan kemudian Abu Nawas
membagikannya kepada para ulama yang
hadir satu persatu dari mereka
masing-masing mendapatkan satu kertas
dan satu pena
lalu Abu Nawas berkata di hadapan para
ulama
Saya minta masing-masing dari kalian
menulis jawaban atas pertanyaan yang
akan saya ajukan
pertanyaannya sederhana Apa yang
dimaksud dengan roti tanya Abu Nawas
mendengar pertanyaan tersebut salah satu
ulama berkata
Maksudmu apa Abu Nawas Jangan
mempermainkan kami Kau pikir Kami anak
kecil ini tidak ada kaitannya dengan
kasusmu Harti sang ulama
tapi 


dengan tenang Abu Nawas
menanggapinya
jangan emosi dulu sudah tulis saja
jawabannya Nanti kalian akan tahu ujar
Abu Nawas
para ulama ini pun menuruti apa yang
diinginkan Abu Nawas Setelah
masing-masing dari mereka menulis
jawabannya di kertas kertas tersebut
Lalu diminta oleh Abu Nawas dan
diberikan kepada Baginda Raja
silahkan Paduka yang mulia baca semua
jawaban yang ditulis di kertas itu minta
Abu Nawas
Baginda Raja pun membacanya satu persatu
ulama pertama menjawab roti adalah
sebuah makanan
ulama kedua menjawab roti adalah karunia
dari Allah
ulama ketiga menjawab roti adalah gandum
yang sudah dimasak ulama keempat
menjawab roti adalah makanan bergizi
setelah Baginda Raja selesai membaca
semua kertas jawaban Abu Nawas kemudian
berkata kepada semua yang hadir di ruang
sidang kalian semua mengaku sebagai ahli
ilmu tapi tak satupun dari kalian
mempunyai jawaban yang sama tentang roti
wahai Baginda Raja kalau roti saja
mereka berbeda jawaban Apakah mereka
pantas menentukan khutbahku benar atau
salah apakah Paduka Raja mau
mempercayakan keputusan kepada
orang-orang seperti ini Bukankah
terdengar roti yang mereka makan setiap
hari saja mereka tidak sepakat dengan
jawabannya Tak ada satupun jawaban yang
sama tapi dengan mudahnya mereka sepakat
menilai kalau khutbahku adalah salah
Itulah kenapa saya mengatakan bahwa para
ahli ilmu adalah orang yang bodoh kata 


Abu Nawas menjelaskan
semua ulama yang hadir di persidangan
hanya terdiam kalaupun mereka membantah
pasti akan ada saja jawabannya mengingat
Abu Nawas adalah orang yang cerdik
sementara itu Baginda Raja justru
menjadi kagum dengan cara berpikirnya
Abu Nawas Abu Nawas pun lantas
dibebaskan dari tuntutan hukum
kisah selanjutnya
suatu hari Istri Abu Nawas membutuhkan
kayu bakar untuk memasak Ia lalu
menyuruh Abu Nawas untuk secepatnya
mencari kayu bakar maka berangkatlah Abu
Nawas ke hutan
Setibanya di sana Abu Nawas melihat
tetangganya yang bernama Abu jahil Abu
Jahal terlihat sedang sibuk menebang
kayu ia memanjat pohon besar untuk
memotong bagian rantingnya dan mulai
menghantamnya dengan sebuah kapak
melihat Abu Jahal berdiri di atas
ranting yang akan dia potong Abu Nawas
pun berteriak Hei Abu Jahal apa yang
akan kau lakukan kau bisa terjatuh nanti
namun Abu Jahal tidak menghiraukan
perkataan Abu Nawas
apa yang dikatakan Abu Nawas jadi
kenyataan selang beberapa saat
ranting pohon itu pun jatuh bersamaan
dengan Abu Jahal dia pun berteriak
kesakitan yang dikatakan Abu Nawas
ternyata Benar berarti dia bisa meramal
nasibku pikir Abu Jahal dalam hati
Abu jahil lalu berlari mengejar Abu
Nawas Hei Abu Nawas Tunggu dulu seru 


Abu
Jahal
Ada apa Abu Jahal tanya Abu Nawas
kamu bisa mengetahui kalau aku akan
jatuh berarti kamu pandai meramal Abu
Nawas mulai saat ini aku akan
mempercayai setiap ucapanmu tutur Abu
jahil
perkara gaib tidak ada yang tahu Abu
Jahal kecuali Allah dan aku tidak
mengakui bahwa aku mengetahui hal itu
semuanya hanya kuasa Allah Abu jahil
balas Abu Nawas tapi tadi engkau
memberitahuku bahwa aku akan jatuh dan
ramalanmu tepat Sekarang beritahu aku
Abu Nawas kira-kira Kapan waktu ajalku
tanya Abu Jahal
Astagfirullah kamu ini apa-apaan sih Abu
Jahal ucap Abu Nawas berusaha menghindar
Abu Nawas pun pergi melanjutkan
perjalanan namun Abu Jahal terus
mengutipnya sembari terus memohon dia
tidak akan membiarkan Abu Nawas beranjak
Ayolah Abu Nawas beritahu aku kapan
waktu ajalku kata Abu Jahal merengek
Abu Nawas menjadi merasa terganggu
dengan sikap Abu Jahal supaya Abu Jahal
tidak mengganggunya lagi Abu Nawas pun
berkata Baiklah Abu Jahal 


dengan
baik-baik ya nanti ketika kamu
memikulkan kayu di atas punggung
keledaimu dan keledaimu meringkik dengan
ringkikan pertama belum sempat Abu Nawas
menyelesaikan kalimatnya dengan Sigap
Abu Jahal berkata seketika itu aku akan
mati Abu Nawas
bukan Abu Jahal bukan itu namun setengah
rohmu akan keluar lalu ketika keledaimu
meringkik untuk kedua kalinya maka semua
rohmu sudah keluar tutur Abu Nawas
Oh begitu ya Abu Nawas Terima kasih
Terima kasih sudah memberitahuku balas
Abu jahil
kemudian Abu Jahal Mulai mengumpulkan
kayu bakar dan memikulkarnya di atas
punggung keledai
saat ia berjalan menuntun keledainya
lewatlah seekor keledai lain seketika
itu keledainya Abu Jahal meringkik ini
permulaan sakratul mautku batin Abu
jahil mulai cemas selang beberapa saat
keledai Abu Jahal kembali meringkik
mendengar itu Abu Jahal segera
menjatuhkan tubuhnya di atas tanah
sembari berkata
Sekarang aku sudah mati dia pun
memejamkan kedua matanya
tak Berapa lama beberapa orang dari
kampung terdekat melewati jalan di mana
Abu Jahal tergeletak mereka mengira Abu
Jahal sudah mati lantas mereka
membawakan sebuah keranda dan menaruh
Abu Jahal di dalamnya kemudian mereka
mengusung keranda tersebut menuju arah
perkampungan di tengah perjalanan mereka
terhambat oleh sebuah Sungai terpaksa
mereka harus berhenti Mereka pun
berhenti bagaimana caranya untuk bisa
menyeberangi Sungai tersebut Apakah
melalui jalur sebelah 


sini atau sebelah
sana
disaat mereka masih kebingungan
tiba-tiba Abu Jahal menjulurkan
kepalanya dari dalam keranda ketika aku
masih hidup aku melewati jalur sebelah
sini Dan inilah jalur terdekat dan
termudah kata Abu Jahal sambil menunjuk
ke arah dengan tangannya melihat Abu
Jahal bangkit dari kematian Mereka pun
kocar-kacir berlari ketakutan Abu Nawas
yang ternyata sedari awal menyaksikan
kejadian itu langsung tertawa
terpingkal-pingkal kisah selanjutnya
pada suatu ketika Abu Nawas bersama
beberapa orang temannya sedang duduk
bercerita
setelah mereka selesai mengikuti salat
magrib berjamaah mereka bercerita
tentang masalah keagamaan
kebetulan mereka menyinggung suatu
masalah yang mengatakan bahwa orang buta
tidak berdosa karena pintu masuknya dosa
tertutup baginya
alasannya sebab mata inilah yang selalu
melihat kesana kemari yang dapat
mendatangkan dosa
akan tetapi Abu Nawas tidak menyetujui
pendapat tersebut dan berniat akan
membuktikannya
keesokan harinya Abu Nawas
berjalan-jalan dengan maksud untuk
bertemu dengan orang buta dia mau
membuktikan pendapatnya bahwa orang buta
bisa juga berbuat dosa Ia pun menyiapkan
kantong dan mengisinya dengan 


uang
tidak beberapa lama Abu Nawas berjalan
ia benar-benar menemukan orang buta
Abu Nawas memperhatikan gerak-gerik
orang buta yang sedang berjalan dengan
tongkatnya
kemudian Abu Nawas berpura-pura menjadi
orang buta ia berjalan sambil membawa
tongkat
lalu Abu Nawas sengaja menabrakkan
dirinya kepada orang buta tersebut Ia
pun pura-pura mengeluh Aduh Sungguh
malang nasibku sebagai orang buta aku
ditabrak oleh orang yang tidak memiliki
rasa belas kasihan
orang buta itu pun heran mendengar
keluhan orang yang ditabraknya lalu ia
berkata maaf saya juga orang buta Saya
tidak dapat melihat dan hanya dapat
berjalan dengan bantuan tongkat ini
sekali lagi saya mohon maaf karena saya
sungguh-sungguh tak sengaja ujar orang
buta tersebut
Oh engkau juga orang buta Ya tanya Abu
Nawas pura-pura tidak tahu
Iya saya buta peganglah tongkatku ini
orang buta harus memakai tongkat untuk
berjalan balas orang buta itu
maka disuruhlah Abu Nawas memegang
tongkatnya begitu pula sebaliknya
Si Buta juga meraba tongkat Abu Nawas
untuk membuktikan bahwa orang yang
ditabraknya adalah benar-benar orang
yang buta
Abu Nawas kemudian berkata kalau begitu
kita senasib wahai saudaraku
Bagaimana kalau kita mencari rezeki
bersama-sama
orang buta itu pun menyetujui ajakan Abu
Nawas lalu mereka berjalan beriringan
orang buta itu 



yakin bahwa orang yang
ditabraknya itu juga orang buta yang
senasib dengan dia
keduanya pun saling memaafkan dan terus
berjalan bersama mencari rezeki
Di tengah perjalanan Abu Nawas
berpura-pura mau kencing dan meminta
tolong kepada Si Buta agar kantongnya
yang penuh berisi uang dipegangkan dulu
baik-baik
sementara Abu Nawas berpura-pura kencing
Ia terus memperhatikan tingkah laku Si
Buta
tampaklah Si Buta sedang meraba-raba
kantong Abu Nawas hingga terbesit niat
jahat di hatinya Wah kantong ini banyak
sekali uangnya lebih baik aku
mengambilnya lalu pergi pasti ia tak
dapat mencariku karena ia juga orang
buta pikir Si Buta tersenyum
Ia lalu meninggalkan Abu Nawas dan
mencari tempat persembunyian agar si Abu
Nawas tidak dapat menemukannya
dalam situasi demikian Abu Nawas
berpura-pura mencari si buta dan meminta
pertolongan kepada Tuhan Ya Allah Malang
benar nasibku tadi saya ditabrak orang
sekarang uang saya dicuri oleh orang
sial benar nasibku ini Ya Allah semoga
Orang yang mengambil uang saya terkena
lemparan batu ini 


Biar dia tahu rasa
setelah itu dengan jitu Abu Nawas
melempar batu ke arah si buta dan persis
kena kepalanya Aduh aku kena Rintis Si
Buta kesakitan hal ini membuat Si Buta
kelapakan Ia pun segera Beranjak Pergi
mencari tempat lain untuk bersembunyi
akan tetapi Abu Nawas yang berpura-pura
buta itu mengikuti Si Buta kemanapun ia
pergi setelah dekat Abu Nawas kembali
memohon kepada Tuhan
Ya Allah semoga Orang yang mengambil
uangku terkena lagi lemparan batu pada
kepalanya
Tak lama kemudian terdengar lagi suara
kesakitan dari si buta Aduh aku kena
lagi rintih si buta sambil memegangi
kepalanya yang benjol Si Buta pun jadi
panik dan heran kenapa doa temannya itu
selalu terkabul Ah mungkin itu hanya
kebetulan saja ujar Si Buta menghibur
diri lalu ia menghindar lagi dan terus
menghindar tetapi Abu Nawas tetap
mengikutinya
secara berturut-turut Abu Nawas berdoa
lagi sambil melakukan lemparan beruntun
kepada si buta dan selalu tepat mengenai
kepalanya
setelah terkena lemparan batu beruntun
Si Buta berpikir Mengapa semua sasaran
yang dilemparnya selalu tepat
mengenainya Ia pun mulai curiga lama
berpikir akhirnya ia mencoba untuk
mengenali suara orang yang bersamanya
barulah ia tersadar bahwa orang yang
bersamanya adalah Abu Nawas yang mencoba
mempermainkannya 


antara marah dan was-was Si Buta berkata
Kamu Abu Nawas kan kamu hanya pura-pura
buta untuk mempermainkan aku Ambillah
kantong uangmu ini
Akhirnya Si Buta itu menyerahkan kantong
itu kepada Abu Nawas si buta Jadi
menyesal dan malu dengan perilakunya
sementara Abu Nawas sendiri pulang
sambil tersenyum kegelian ia puas karena
dapat membuktikan bahwa orang buta dapat
juga berbuat dosa
kisah selanjutnya
Abu Nawas bukan hanya dikenal sebagai
sosok yang cerdas dan digemari banyak
orang tetapi dibalik itu semua ternyata
Ia merupakan seorang yang gemar
memelihara binatang di pekarangan
rumahnya terdapat beberapa jenis
binatang mulai dari burung keledai ayam
dan juga hewan unta
diketahui Abu Nawas memiliki seekor unta
yang konon dapat berbicara layaknya
manusia
unta kesayangannya itu sering diajaknya
pergi berjalan-jalan mengelilingi kota
hingga pada suatu pagi yang cerah Abu
Nawas pergi mengembara bersama dengan si
unta yang cerdik itu
tak terasa Ia terus berjalan dan
sampailah mereka berdua ke sebuah gunung
pasir yang gersang dan sangat panas
mengingat perjalanannya yang masih jauh
akhirnya 


Abu Nawas dan untanya
memutuskan untuk berteduh di sebuah
tempat
ketika sampai di tempat itu ia langsung
merebahkan tubuhnya bersama dengan si
unta yang cerdik tersebut dan saat itu
terjadilah dialog antara Abu Nawas
dengan untanya
wahai Tuan Apakah perjalanan kita masih
jauh tanya si unta
benar perjalanan kita masih jauh kita
harus melewati dua gurun pasir lagi
setelah itu barulah kita tiba di tempat
tujuan dan di tempat itu kita akan
mendapatkan penginapan yang nyaman jawab
Abu Nawas
Baiklah kalau begitu Tuan balas unta
sambil menganggukan kepalanya
setelah merasa cukup beristirahat mereka
kembali melanjutkan perjalanannya namun
sampai hari sudah mulai gelap mereka
belum juga sampai ke tempat tujuan
dengan begitu akhirnya mereka
menghentikan perjalanannya kembali Abu
Nawas segera menyiapkan tenda untuk
bermalam dan beristirahat
Abu Nawas dan untanya lalu menyantap
bekal yang ia bawa dari rumah Setelah
itu mereka tidur dengan nyenyak di dalam
tendanya akan tetapi Malang bergizi unta
ia tak diizinkan oleh Abu Nawas 


untuk
tidur di dalam tenda karena tendanya
memang sangat kecil
si unta tersebut akhirnya merasa
kedinginan Ia berpikir jika harus tidur
di luar seperti ini keesokan harinya ia
akan jatuh sakit dan tidak dapat
melanjutkan perjalanannya kembali
ketika malam semakin larut si unta
membangunkan Abu Nawas Ia pun berkata
kepada Abu Nawas wahai Tuan Saya sangat
kedinginan ijinkan saya menitipkan ujung
kaki untuk masuk ke dalam tenda
Abu Nawas ternyata tidak merasa
keberatan ia menganggap dengan adanya
ujung kaki unta itu tidak akan
mengganggu tidur nyenyaknya
namun beberapa saat kemudian si unta
berkata lagi
wahai Tuan Saya sangat kedinginan
Izinkan saya memasukkan kaki depan saya
ke dalam tenda agar besok saya kuat
berjalan membawa tuan di atas punggung
saya
tanpa berpikir panjang Abu Nawas
langsung mengizinkan permintaan untanya
itu
akan tetapi sesaat kemudian si unta
berkata lagi
wahai Tuan hidung saya mulai berair
kalau dibiarkan seperti ini besok saya
pasti akan sakit dan tidak bisa membawa
tuan di atas punggung saya 

Putri%20Duyung%20dan%20Lumba lumba%20(4)
Oleh karena
itu Izinkan saya berada di dalam tenda
Abu Nawas pun masih mempersilahkan si
unta untuk masuk ke dalam tendanya
ternyata hal itu terus berulang hingga
Abu Nawas tidak menyadari jika sekarang
ia malah tidur di luar tenda sedangkan
si unta tidur di dalam tenda
kali ini ia yang merasa sangat
kedinginan
keesokan harinya Ia baru menyadari jika
dirinya tidur di luar Abu Nawas kemudian
masuk ke tendanya dan melihat untanya
masih tertidur nyenyak di dalam tenda
lantas Abu Nawas membangunkan untanya Ia
pun bertanya kepada si unta kenapa aku
yang jadi tidur di luar sedangkan kamu
malah tidur di dalam tenda
itu menjawab wahai Tuan Saya akan tidak 


mengusir Tuan Saya sudah meminta izin
terlebih dahulu kepada tuan tuan juga
mengizinkan anggota tubuh saya masuk ke
dalam tenda hal itu saya lakukan agar
Pagi ini saya kuat menggendong tuan di
atas punggung saya untuk terus
melanjutkan perjalanan kata si unta
dengan santainya
ada-ada saja kamu engkau memang unta
yang cerdik aku yang biasa dikenal orang
paling cerdik ternyata masih bisa kalah
denganmu jawab Abu Nawas sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya
Sekian dulu perjumpaan kita kali ini
sampai bertemu lagi di kisah selanjutnya
Terima kasih yang sudah subscribe dan
setia menonton channel ini
wassalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *