Cerita Abu Nawas Abu Nawas Dan Gubernur Yang Nakal

AVvXsEjB3uFENq2vd98xm4QnxNWYAWlyHbNY0GYItkmTfZgrpYw5eQJlypVU6fw23AQaPorLez3Zn40dBO7v6rJTGchnN8FQN7DRhhTaGGb0KPTPNJ9dnO qhgfb1ro94i7F5e1tNp0kxSOTpjpGipCK6ee54ZtGG4EwiLyGzOYEwOLmIqvjIObfXYmswlwf=w640 h360

Assalamualaikum semuanya semoga kalian
semua dalam keadaan sehat dan
dilancarkan rezekinya Amin ya robbal
alamin
dikisahkan ada seorang sahabat raja yang
tak suka dengan keberadaan Abu Nawas di
ruang lingkup istana Abu Nawas sendiri
juga tidak suka kepadanya
tapi ketidaksukaan Abu Nawas bukan tanpa
sebab Abu Nawas kerap kali memerkokinya
Tengah menyalahgunakan kedekatannya
dengan raja untuk memeras rakyat kecil
akan tetapi setiap kali Abu Nawas
mengadukan hal itu Baginda Raja Justru
malah membelanya
Baginda Raja menganggap bahwa tuduhan
Abu Nawas hanya karena ketidaksukaannya
suatu hari sahabat Baginda Raja tersebut
diangkat jadi gubernur di mana Abu Nawas
tinggal
hanya dalam waktu sebulan Abu Nawas
sudah banyak mendapatkan aduan dari
masyarakat tentang perilaku Gubernur
barunya itu
wahai Abu Nawas Gubernur baru kita telah
bertindak semena-mena ia sangat kejam
sama rakyat kecil dan ia juga sering
berbuat korupsi kata salah satu warga
engkau kan dekat dengan Baginda Raja
laporkan saja padanya Abu Nawas biar dia
dipecat sahut lainnya
dia itu sahabat Raja kalau saya
sendirian mengadu tentu Paduka lebih
percaya padanya tutur Abu Nawas lalu apa
yang harus kita lakukan kita tak mau
terus-terusan tertindas oleh ulah
Gubernur baru kata para warga
mendengar keluhan tersebut sejenak Abu
Nawas terdiam ia memikirkan cara supaya
Baginda Raja percaya kepadanya
lebih baik kita ke istana sama-sama
nanti dihadapan Baginda Raja biar aku
yang berbicara untuk mewakili kalian
ucap Abu Nawas
maka pada keesokan harinya Abu Nawas dan
beberapa puluh warga datang menghadap
Baginda Raja melihat Abu Nawas datang
dengan membawa orang banyak sempat
membuat Baginda Raja kaget
Ada apa Abu Nawas Kenapa kau bawa orang
banyak sekali tanya Baginda Raja
mereka mau mengadukan bahwa Gubernur
baru yang Paduka angkat telah berbuat
zalim ia semena-mena dengan rakyat kecil
dan ia juga sering memakan dana bantuan
yang seharusnya diberikan kepada warga
miskin kata Abu Nawas memberitahu
spontan Baginda Raja kaget mendengarnya
Apa benar begitu tanya Baginda Raja
kepada warga yang datang
benar Paduka yang mulia jawab mereka
serempak kalian jangan bohong ya Setahu
saya Gubernur kalian itu adil dan
bijaksana ucap Baginda yang tidak tahu
kondisi sebenarnya
melihat hal tersebut Abu Nawas segera
maju ke depan
wahai Paduka yang mulia Apalah arti adil
dan bijaksananya Gubernur kami jika
tidak dinikmati oleh warga provinsi lain
Oleh karena itu sudilah kiranya Baginda
memindahkan Gubernur kami ke tempat lain
agar keadilan dan kebijaksanaannya bisa
dinikmati seluruh rakyat kata Abu Nawas
beralasan
mendengar itu Baginda Raja tertawa
sambil meninggalkan mereka
Baginda Raja pun mengabulkan permintaan
Abu Nawas dan para rakyatnya
begitulah cara Abu Nawas memberitahu
kelakuan sahabat Baginda Raja
tanpa harus menyakiti hati Baginda Raja
kisah selanjutnya
Entah kenapa hari itu Baginda Raja
merasakan jenuh kekayaan yang berlimpah
dan kekuasaan yang dimilikinya justru
membuat dirinya bosan hidup di dalam
istana lalu salah satu penasihat istana
menyarankan supaya Baginda Raja pergi
berburu ke hutan seperti biasanya namun
saran tersebut ditolak Baginda Raja ia
beralasan kegiatan tersebut sudah sering
dilakukan
aku sudah bosan Berburu ke hutan Apa ada
saran lain tanya Baginda Raja
sebenarnya apa sih yang membuat Paduka
bosan Tanya balik penasehat istana
aku bosan hidup di dalam istana aku
jenuh dengan semua keadaan ini jawab
Baginda Raja
Oh Jadi pada intinya Paduka ingin
mencari suasana baru saya ada ide Paduka
yang mulia Bagaimana kalau Paduka
berkemah usul penasehat istana
berkemah sama sekali aku tidak tertarik
balas Baginda Raja
begini Paduka yang mulia supaya kegiatan
berkemah Paduka berkesan Paduka ajak
serta Abu Nawas nanti Paduka tantang Abu
Nawas sebuah permainan Bukankah selama
ini Paduka ingin supaya Abu Nawas kalah
ucap penasehat istana Ia memang tapi
permainan Apa yang ingin kau usulkan
banyak Baginda Raja kemudian penasehat
istana memberitahu tentang jenis
permainan yang akan dilombakan
ide kamu sangat Cemerlang kali ini pasti
dia akan kalah Baiklah sekarang juga
Panggil Abu Nawas kemari
maka beberapa pengawal istana segera
pergi menuju rumah Abu Nawas singkat
cerita datanglah Abu Nawas ke istana
menghadap Baginda Raja
Selamat datang Abu Nawas Mari
mendekatlah dan duduk bersamaku sambut
Baginda Raja
Paduka sepertinya terlihat ceria saya
ikut berbahagia Paduka balas Abu Nawas
Oh tentu saja Abu Nawas karena saya
ingin menantangmu sebuah permainan kalau
kamu menang kamu akan saya kasih hadiah
1000 dinar tapi kalau kamu kalah kamu
harus memandikan semua kuda-kuda istana
selama sebulan Apakah kamu bersedia
tantang Baginda Raja
Kalau boleh tahu apa itu permainannya
tanya Abu Nawas penasaran
lomba berkemah Abu Nawas nanti kamu dan
aku membuat kemah di alun-alun tapi
jarak kemahmu dan kemahku agak berjauhan
Siapa saja yang kemahnya didatangi tamu
paling banyak dialah pemenangnya ucap
Baginda Raja menjelaskan
sejenak Abu Nawas terdiam supaya
orang-orang tertarik datang ke kemahku
aku akan bercerita yang membuat
orang-orang tertawa dan aku pasti akan
memenangkan permainan ini pikir Abu
Nawas dalam hati
Baiklah Paduka yang mulia saya siap
menerima tantangan Paduka balas Abu
Nawas
bagus nanti malam kita langsung mulai
permainannya Timpal Baginda Raja
setelah malam tiba Abu Nawas dan Baginda
Raja mulai sibuk membuat kemahnya
masing-masing
karena kemah Baginda Raja besar dan
banyak hidangan tentu saja banyak tamu
yang berdatangan mulai dari rakyat
jelata sampai pejabat istana
berbondong-bondong bertamu ke kemah
Baginda Raja sehingga di kemah Baginda
Raja terlihat seperti sebuah pesta yang
meriah semakin malam semakin ramai orang
berdatangan
sedangkan kemah Abu Nawas yang tak jauh
dari kemah Baginda Raja Tak ada satupun
tamu yang datang bagaimana tamu mau
datang kemahnya saja kecil belum lagi di
kemah Abu Nawas tidak ada hidangan sama
sekali
kalau begini caranya aku bisa kalah Mana
mungkin kamu mau datang untuk
mendengarkan ceritaku mereka tentu lebih
memilih untuk menyantap hidangan di
kemah Baginda Raja pikir Abu Nawas
rencana awal Abu Nawas menjadi gagal
total terpaksa ia harus memutar otaknya
supaya bisa memenangkan permainan ini
Dan waktu pun sudah mulai menunjukkan
hampir subuh itu pertanda permainan akan
segera berakhir
tiba-tiba muncul ide yang cemerlang di
benak Abu Nawas Ia lalu mengambil korek
api dan membakar kemahnya sendiri karena
malam itu angin bertiup kencang dengan
cepat api semakin membesar
orang-orang yang sedang berkumpul di
kemah Baginda Raja terkejut melihat ada
kebakaran di kemah Abu Nawas mereka
semua langsung menuju ke sana bermaksud
untuk menolong Abu Nawas Baginda Raja
sendiri ikut mendatanginya ia khawatir
dengan keselamatan Abu Nawas
kemah Baginda Raja yang tadinya penuh
dengan tamu kini menjadi kosong tak
seorangpun yang ada di situ karena
mereka semua sedang berada di kemah Abu
Nawas termasuk Baginda Raja sendiri
tidak Berapa lama suara kumandang adzan
subuh pun terdengar
Alhamdulillah
teriak Abu Nawas kegirangan
melihat hal itu orang-orang pun menjadi
heran Begitu juga dengan Baginda Raja
Hei Abu Nawas kamu sudah gila ya kemahmu
kebakaran tapi kamu malah merasa senang
ucap Baginda Raja tentu saja Paduka yang
mulia karena saya memenangkan permainan
ini Balas Abu Nawas
maksudmu Bagaimana tanya Baginda Raja
kebingungan
Lihatlah semua tamu Paduka datang ke
kemah saya jawab Abu Nawas
sejenak Baginda Raja mulai memahami
maksud perkataan Abu Nawas
Oh belum tentu Abu Nawas karena semua
tamu yang datang ke kemahmu jumlahnya
sama dengan tamu yang datang ke kemahku
berarti tidak ada yang menang juga tidak
ada yang kalah bantah Baginda Raja
Waduh Paduka salah menghitung Bukankah
Paduka juga datang kemari berarti jumlah
tamu yang datang ke kemah saya lebih
banyak meskipun selisihnya cuma satu
orang yaitu Paduka Raja sendiri ujar Abu
Nawas
untuk kesekian kalinya Baginda Raja
harus menerima kekalahan
kamu memang cerdik Abu Nawas ucap
Baginda Raja lalu salah satu kawan Abu
Nawas yang kebetulan ada di situ
Bertanya kepadanya
Hei Abu Nawas Apa kamu tidak rugi kamu
membakar kemahmu sendiri hanya untuk
memenangkan permainan ini tapi dengan
entengnya Abu Nawas menjawab
dengar ya kawan harga kemahku cuman 10
Dinar sedangkan hadiah yang akan aku
dapatkan jumlahnya 1000 dinar
kawannya itu langsung memuji kecerdikan
Abu Nawas
kisah selanjutnya
suatu hari di kota Baghdad digemparkan
oleh kedatangan dua orang tamu yang
mengaku ulama besar Mereka berdua adalah
Syekh Wahab dan Syekh khodir dengan
berpakaian jubah serba putih layaknya
orang sholeh mereka menyapa masyarakat
kota Baghdad
para warga pun menyambutnya penuh
penghormatan mereka menjamu dua tamu
agung itu dengan berbagai macam hidangan
tidak Berapa lama terdengarlah suara
adzan Syekh Wahab dan Syekh Qodir lalu
pamit untuk menunaikan salat mereka
berdua pun diantar oleh warga sampai ke
masjid
Sesampainya di masjid sewahap melepaskan
sepatunya dan membiarkannya di luar
teras masjid sedangkan Syekh Qodir
melepaskan sepatunya tapi membawanya
masuk ke dalam masjid
sementara Syekh Wahab dan Syekh Qodir
melaksanakan salat terjadilah percakapan
warga yang ada di situ
Menurut kalian diantara kedua orang itu
siapa yang lebih Alim tanya salah satu
dari mereka
menurut saya sewahat yang lebih Alim
karena membiarkan sepatunya di luar itu
menunjukkan kalau beliau mempercayakan
segala sesuatunya kepada Allah jawab
warga yang lain
namun ada juga warga yang berpendapat
kalau Syekh qodirlah yang lebih Halim
sebab dengan dirinya membawa sepatu ke
dalam masjid itu menunjukkan
kehati-hatian kemudian salah seorang
berkata lebih baik kita tanyakan
langsung kepada kedua tamu kita pasti
beliau punya alasannya
Iya benar itu lebih tepat timbal lainnya
ketika Syekh Wahab dan Syekh Qodir itu
selesai salat mereka ditanyai secara
terpisah oleh kedua kelompok yang
berbeda pendapat tadi
pertama mereka menanyai sewa HAM
wahai Tuan Syekh Kenapa sih anda
meninggalkan sepatunya di luar teras
masjid padahal Syekh Qodir membawa
sepatunya masuk ke dalam
dengan tersenyum sewaham menjawab Alasan
saya meninggalkan sepatuku karena segala
sesuatunya saya pasrahkan kepada Allah
kalaupun sepatu saya dicuri orang maka
akan saya ikhlaskan dan tidak akan
menganggapnya sebagai pencuri justru
saya akan mendoakan agar sepatuku
menjadi kebaikan bagi dirinya
mendengar jawaban Syekh Wahab masyarakat
pun terkagum-kagum dengan kerendahan
hatinya
kemudian giliran sah Kodir yang ditanya
wahai Tuan Syekh Kenapa sih anda membawa
masuk sepatunya ke dalam masjid padahal
sewahap membiarkan sepatunya di luar
teras masjid mendapat pertanyaan seperti
itu Syekh Qodir pun tersenyum lalu ia
menjawab kalau saya biarkan sepatuku di
luar Saya khawatir akan menggoda
seseorang untuk mencurinya jika sampai
kubiarkan itu terjadi maka ketika
sepatuku dicuri saya juga ikut
menanggung dosanya karena saya telah
Ikut andil menggoda seseorang untuk
mencuri oleh sebab itulah saya bawa
masuk sepatunya ke dalam masjid Syekh
Qodir mencoba menjelaskan
masyarakat kembali terkagum-kagum dengan
jawaban Syekh Qodir Mereka pun memuji
kealiman dua tamu agung tersebut
tidak Berapa lama kemudian datanglah Abu
Nawas di tengah-tengah mereka
Waduh kalian semua gampang terlena
dengan perkataan yang terkesan bijak
padahal biasa saja kata Abu Nawas kepada
warga yang berkumpul
Maksudnya bagaimana Abu Nawas kedua tamu
itu memang orang alim mereka berdua juga
bijak dalam bertutur kata balas salah
satu warga
Abu Nawas lalu menjelaskan
Coba kalian perhatikan antar Sepatu yang
dipakai Syekh Wahab dan Syekh Qodir
keduanya berbeda
Syekh Wahab membiarkan sepatunya di luar
karena memang Sepatunya sudah butuh mana
mungkin ada maling yang tergoda untuk
mencurinya ujar Abu Nawas sambil
menuding sepatu yang sedang dipakai
sewaham
dan Sepatu yang dipakai oleh sekodir itu
masih bagus dan saya kira harganya pasti
mahal oleh sebab itulah dia khawatir
sepatunya akan hilang makanya sepatunya
ia bawa masuk serta ke dalam masjid
kalian semua jangan terlena dengan
seseorang yang melakukan ilmu hanya
karena penampilan dan tutur katanya tapi
kalian harus mengetahui sejauh mana
kepandaian ilmu agamanya
mendengar perkataan Abu Nawas itu saya
Wahab dan Syekh khodir pun dibuatnya
keki mereka berdua Tahu betul siapa Abu
Nawas akhirnya mereka memutuskan untuk
pergi meninggalkan kota Baghdad
kisah selanjutnya
dikisahkan seorang Hakim untuk wilayah
pusat kota telah wafat setelah mengidap
penyakit kritis lalu Baginda Raja
mengutus seorang Hakim baru yang
terkenal dengan sosok kejam dan bengis
ketika Hakim baru telah sampai di pusat
kota para saudagar pemuka agama dan para
tokoh setempat mulai berdatangan ke
istana mereka membawa hadiah yang akan
dipersembahkan kepada Tuhan Hakim
sebagai bentuk loyalitas dan ucapan
selamat
Tuan Hakim menanyakan sosok Abu Nawas
yang sering ia dengar
mana Abu Nawas Kenapa dia belum
menghadap tanya Tuan Hakim
kami tidak tahu yang mulia nanti
sepulang dari sini kami akan menemui Abu
Nawas jawab mereka
setelah berpamitan pulang mereka lalu
mendatangi rumah Abu Nawas
wahai Abu Nawas Kamu dicari Tuan Hakim
yang baru kamu disuruh ke istana
secepatnya kata mereka melaporkan
Abu Nawas pun bermaksud pergi menemui
Tuan Hakim dengan membawa sebuah hadiah
sederhana namun sial ketika di tengah
perjalanan buah-buahan yang dia bawa
bergelinding di atas nampan Abu Nawas
berusaha menatanya kembali akan tetapi
buah-buahan itu terus menggelinding di
atas nampan karena kesal Abu Nawas
akhirnya memakan buah yang ia bawa
sehingga hanya tersisa satu butir
Sesampainya di istana Tuan Hakim
menyambutnya dengan hangat lalu Abu
Nawas mempersembahkan hadiah buah yang
hanya tersisa satu butir
melihat itu Tuan Hakim pun tersenyum ia
kemudian berkata
Meskipun hadiahmu sederhana namun kau
berhak mendapatkan hadiah besar
Tuan Hakim kemudian menyuruh salah satu
pengawalnya untuk memberikan hadiah satu
kantong uang kepada Abu Nawas
betapa senangnya hati Abu Nawas ia tak
menduga akan mendapatkan hadiah begitu
banyak kemudian Abu Nawas pulang dan
memberitahukan kepada istrinya
saya pikir Hakim yang baru galak dan
pelit ternyata ia sangat baik dan
Dermawan Puji Abu Nawas
Mengapa engkau bisa saya yakin itu tanya
istrinya
tadi aku barusan pulang dari istananya
Tuhan Hakim memberikan aku satu kantong
uang Padahal aku mempersembahkan hadiah
untuknya cuman satu butir buah balas Abu
Nawas menjelaskan
sang istri pun kaget dan bahagia
mendengarnya
Kenapa tidak kau ulangi saja besok
Pergilah ke istananya dan bawakan buah
yang banyak tentu hadiah yang akan Kau
Dapatkan pasti akan lebih banyak lagi
tutur istrinya
tentu saja istriku apabila urusan
bersama Tuan Hakim lancar seperti ini
maka dalam waktu dekat kita akan menjadi
tokoh masyarakat yang paling kaya timbal
Abu Nawas
sesuai dengan rencana esok harinya Abu
Nawas membawa keranjang yang penuh
berisi buah nanas ketika di tengah
perjalanan menuju istana dia bertemu
seorang temannya mau kemana Abu Nawas
tanyanya
mau ke Istana Tuan Hakim jawab Abu Nawas
singkat terus buah nanas yang kau bawa
akan kau hadiahkan untuknya tanya
temannya kembali ia benar jawab Abu
Nawas
menurutku lebih baik diganti dengan buah
yang lebih pantas Abu Nawas seperti buah
anggur kata temannya menyarankan
Abu Nawas pun setuju dengan usulan
tersebut
lantas dia pergi ke pasar membeli buah
anggur terbaik untuk dibawanya kehadapan
Tuan Hakim
setelah Abu Nawas tiba di istana Tuan
Hakim menyambutnya dengan hangat
Kemudian Abu Nawas mempersembahkan buah
anggur yang baru saja dibelinya
namun hadiah tersebut tidak berhasil
memikat Tuan Hakim Tuan Hakim Justru
malah beranggapan bahwa Abu Nawas
menghinanya tentu saja Tuan Hakim
menjadi marah kamu tahu kan kalau saya
paling benci dengan buah anggur kata
tuan Hakim penuh emosi Ia pun menyuruh
para pengawal untuk melempari kepala dan
muka Abu Nawas dengan buah anggur setiap
kali buah anggur mengenai dirinya Abu
Nawas selalu berkata Alhamdulillah
melihat hal itu Tuan hati merasa heran
Lalu ia bertanya kepada Abu Nawas
Kenapa kau mengucapkan Alhamdulillah
Padahal aku sedang menghukum kamu dengan
polosnya Abu Nawas menjawab sebab pada
awalnya aku akan membawa satu keranjang
buah nanas Untungnya ada temanku yang
menyarankan supaya membawa buah anggur
saja Coba kalau yang dilempar adalah
buah nanas tentu akan membuat kepalaku
memar dan hidungku patah Bagaimana aku
tidak bersyukur kepada Allah atas
keselamatanku
spontan Tuan Hakim tertawa
terpingkal-bingkal mendengar alasan Abu
Nawas Ia pun lalu mempersilahkan Abu
Nawas untuk pulang
kisah selanjutnya
akibat musim paceklik yang menyimpan
Negeri Baghdad Banyak masyarakat yang
kesulitan mencari nafkah termasuk Abu
Nawas sendiri sebenarnya ia bisa saja
menerima tawaran Baginda Raja untuk
menjadi pejabat istana dengan begitu
kehidupan ekonominya Abu Nawas tentu
tidak akan kekurangan akan tetapi ia
sudah berjanji bahwa dirinya tidak akan
mau menjadi pejabat ia lebih memilih
menjadi masyarakat biasa
alasan sederhananya adalah ia takut
terlena oleh gelimang harta yang suatu
saat nanti akan dipertanggungjawabkan di
akhirat kelak Ia pun kini hidup
sederhana apa adanya
dan karena sedang dilanda musim paceklik
Abu Nawas terpaksa harus menjual rumah
satu-satunya hanya sekedar untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya
Abu Nawas menjual rumah pada saudagar
kaya dalam akad jual beli tersebut Abu
Nawas meminta satu syarat
Tuan Saya bersedia menjual rumah saya
Tapi ada syaratnya
Apa syaratnya Abu Nawas tanya saudagar
kaya
Saya hanya ingin setiap saat saya
diperbolehkan mengunjungi paku yang
menancap di ruang makan karena itu
adalah paku kesayangan saya jawab Abu
Nawas Oh tentu saja boleh Abu Nawas
balas saudagar kaya
Baiklah kalau begitu Saya bersedia
menjual rumahnya kepada tuan ujar Abu
Nawas singkat cerita rumah Abu Nawas ini
ditempati oleh keluarga saudagar kaya
Beberapa hari kemudian saat jam makan
siang Abu Nawas mendatangi rumahnya yang
telah dijual ia masuk ke ruang makan
hanya untuk melihat paku kesayangannya
melihat kehadiran Abu Nawas keluarga
saudagar kaya yang sedang makan siang
mengajaknya untuk ikut makan siang
bersamanya Abu Nawas dengan senang hati
menerimanya
hari berikutnya saat jam makan siang Abu
Nawas kembali datang dengan alasan yang
sama yaitu mengunjungi paku
kesayangannya karena Si sodagar Kaya
sedang makan siang ia kembali mengajak
Abu Nawas untuk makan siang bersama
keluarganya
lagi-lagi tawaran tersebut diterima Abu
Nawas dengan sukacita
dan ketika malam tiba saatnya bagi
keluarga saudagar untuk waktunya makan
malam Abu Nawas kembali datang dengan
alasan ingin mengunjungi paku
kesayangannya
si saudagar yang sedang santap makan
malam bersama keluarga kembali mengajak
Abu Nawas untuk makan malam bersamanya
Abu Nawas dengan senang hati menerima
ajakan tersebut
karena seringnya Abu Nawas datang pada
saatnya jam makan membuat keluarga
saudagar tersebut merasa jengkel tapi ia
tak berani melarangnya karena ia telah
menerima sarat dari Abu Nawas saat
perjanjian jual beli rumahnya
akhirnya lama-kelamaan si saudagar tidak
tahan dengan kelakuan Abu Nawas Ia pun
akhirnya mengembalikan rumah tersebut
kepada Abu Nawas tanpa meminta ganti
apa-apa
Sekian dulu perjumpaan kita kali ini
sampai bertemu lagi di kisah selanjutnya
Terima kasih yang sudah subscribe dan
setia menonton channel ini
wassalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *