74 Kata Kasar Menurut KBBI

Iseng saya mengutak-atik fitur-fitur KBBI daring. Agar jangkauan
utak-atik itu makin luas, sebelumnya saya membuat akun di laman tersebut.
Setelah itu, saya menemukan berbagai menu terkait isi KBBI, misalnya pencarian
terpopuler, ragam, kelas kata, dan bahasa daerah.

 

 

Ada yang menarik ketika saya menelusuri menu ragam. Salah satu isinya
adalah ragam kasar. Artinya, kata-kata dalam daftar tersebut dikategorikan
sebagai ungkapan kasar. Segera saya mengklik tautan ke dalam ragam tersebut,
lantas muncullah daftar kata di bawah ini.

 

abus2

anak ampang

anak kolong

anak sundal

anjing

anjing air

babi

bacot

bajingan

bantongan

berjantan

berkirai

bermoncong

bermulut

bermulut-mulut

bincacak

buncit1

butuh2

celaka

cukimai

cungur

entot

geblek

gegares

geladak2

gelayaran

gendut

goblok

jangkang4

kampang

keparat1

koit

kojor

kunyuk

laki

lonte

mampus

memberaki

membuta

mencekik

mencengam

mengamput

mengancuk

mengayut

mengencingi

mengentot

mengerami

menggelontor

menggendong

menggorok

menongkrongi

menyekang
perut

menyengam

menyodok

merodok

minggat

modar

monyong

mulut-mulutan

penyakit

penyekang

pepek2

perut1

semburit

sial1

sialan

skor afrika

taruk3

tembolok1

tempik2

terjengkang

tiga
serangkai

tongkrongan

tua bangka

 

 

Saya yakin,
Teman-Teman sependapat dengan saya bahwa ada beberapa kata yang terasa aneh
untuk dikategorikan kasar dalam daftar di atas. Seperti butuh, mengerami,
menggendong, tongkrongan, dan tiga serangkai.

 

Setelah mengklik
kata tersebut satu per satu, saya sebagai orang awam pun mulai paham. Ada kata
yang memang bermakna negatif, ada pula yang–saya tidak ingin terburu-buru
menyimpulkan–sepertinya hanya diasumsikan negatif oleh penyusun KBBI. Untuk
kelompok yang kedua ini, contohnya tongkrongan. Dalam KBBI, tongkrongan
memiliki dua makna. Yang kedua dikategorikan kasar, yaitu potongan; bentuk
badan; gaya. Berdasarkan arti tersebut, logika saya belum bisa menerima mengapa
tongkrongan dianggap kasar. Namun, ketika menyimak contoh yang diberikan untuk
makna tersebut, saya bisa mengikuti jalan pikiran si penyusun KBBI meski belum
bisa menerima sepenuhnya. Contoh kalimatnya adalah “tongkrongannya seperti
orang kaya, tetapi kantongnya kosong”

Meski bisa
memahami jalan pikiran perancang KBBI, saya masih bertanya-tanya, bukankah
lema/kata muncul terlebih dahulu daripada contohnya? Contoh kalimat bisa
terbentuk ketika makna sebuah kata telah ditentukan. Gagasan ini timbul dari
pemikiran awam saya. Saya belum pernah mengetahui secara pasti proses
pembentukan makna dan pencantumannya dalam KBBI. Sebab itu, saya mohon maaf
jika opini ssaya tadi salah.

 

Lantaran masih
awam, saya tidak ingin terlampau jauh menilai isi KBBI. Yang bisa saya duga
terkait kategorisasi kasar terhadap kata “tongkrongan” adalah adanya satu/dua
kelompok masyarakat pengguna bahasa Indonesia yang menganggap kata
“tongkrongan” (makna kedua) kasar. Jika demikian, wajar apabila KBBI
mencantumkan “tongkrongan” dalam daftar kata dengan ragam kasar.

 

Selain
tongkrongan, saya juga sempat bingung dengan makna perut. Ketika menelusuri
makna-makna perut, spontan yang tebersit di benak saya adalah kadar kekasaran
sebuah kata/lema bagi pendesain KBBI sangat “rendah”. Salah satu makna yang
dicantumkan KBBI untuk perut dimasukkan ke dalam ragam kasar, yaitu makanan
(rezeki, nafkah). Sampai di sini, saya masih bingung mengapa itu disebut kasar.
Kemudian ssaya membaca contohnya. Contoh kalimatnya, “sebenarnya bukan urusan
politik lagi, melainkan urusan perut”. Apakah saya yang terlampau menganggap
biasa makna konotatif dari perut? Mungkin.

 

Jika sebelumnya
saya berpikir bahwa makna sebuah kata akan mendahului contoh kalimatnya, kali
ini saya teringat juga bahwa KBBI semata merupakan alat perekam. Yang direkam
ialah penggunaan kata atau istilah di masyarakat. Jadi, ketika sebuah kata
diberi konotasi kasar oleh masyarakat dan digunakan secara masif, KBBI akan
mencantumkannya sesuai dengan kesepakatan itu. Bukankah bahasa itu bersifat konvensional?
Sebab itu, saya lagi-lagi bisa mahfum mengapa perut bisa masuk ragam kasar jika
contoh kalimatnya seperti tadi. Saya memang sering mendengar kata “perut”
dikonotasikan sebagai makanan, rezeki, atau nafkah. Mungkin setelah dilakukan
riset, ditemukan bahwa “perut” acap digunakan untuk mengungkapkan maksud
seperti dalam contoh di atas. Maka, berdasarkan penggunaan yang masif itu, KBBI
mencantumkannya ke dalam ragam kasar.

 

Sekali lagi, itu
hanya dugaan sementara saya. Bagaimanapun mekanismenya, saya percaya, semua kata
Yang dicantumkan dalam KBBI sudah melalui tahap-tahap yang selektif dan bisa
dipertanggungjawabkan keabsahannya. Bukan berarti KBBI tanpa kesalahan sama
sekali. Tentu ada saja kekeliruan, tapi itu sangat minor. Yang terpenting
adalah dengan KBBI, kita punya penuntun tepercaya ketika tersesat dalam
belantara kata.

 

 

Demikianlah hasil
utak-atik saya hari ini terhadap KBBI. Intinya, bahasa akan terus berkembang,
entri KBBI akan terus bertambah. Semoga ilmu dan pengetahuan kita pun terus
bertumbuh dan berkembang, kebanggaan dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia
makin mendalam. Sampai jumpa pada hasil utak-atik saya berikutnya. Buat
Teman-Teman yang penasaran ingin mengutak-atik juga, silakan ke laman 
KBBI daring.

Penulis: Iin Saputri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *